Thursday, November 13, 2008

Promosi Buku Perdanaku


Hallo sahabat Blogers, aku mau promosi buku perdana nih. Buku ini ditulis berjamaah (barengan) dengan beberapa penulis tergabung dalam Milis Forum Lingkar Pena (FLP) cabang Jepang. Pada buku ini aku menyumbang empat judul, namun yang terjaring adalah dua judul yakni:

“Danjiki, Gambatte Ne! “ dan “Merayakan Idul Fitri di Kota Salju”
(dengan nama pena: Ellnovianty Nine)


Ramadhan memang saat istimewa. Kisah seputar Ramadan tak lekang oleh panas dan hujan, selalu dirindu setiap saat.

Berkahnya bergema hingga bulan-bulan setelahnya, meninggalkan jejak kisah dan hikmah pelembut jiwa, menerbitkan rindu menggebu di dada, Apalagi buat para penulis yang sebagian besar bermukim di Negeri Sakura-Jepang. Banyak cerita suka, duka, membuka wawasan pembaca tentang Negeri Sakura itu sendiri dan tentunya banyak sisi mengharukan yang sangat-sangat menjadi perenungan bagi siapa pun yang membacanya. So, jangan lewatkan buku ini.

FLP Jepang mempersembahkan "Ramadhan Tiba", sebuah antologi kisah-kisah Ramadhan dari negeri sakura. Bercerita tentang segala kisah Ramadhan di tanah seberang: kenangan pada tanah air, cinta pada keluarga, perjuangan sebagai minoritas, hingga keindahan persaudaraan dengan orang-orang dari berbagai belahan dunia. Buncahan nikmat yang di bawa Ramadhan di hati kita semua.

"Cerpen-cerpen di dalam buku ini sebetulnya mengangkat tema sederhana, tapi kesederhanaan justru menjadi dian di tengah gelapnya tema sastra kekinian. Karya-karya di dalam buku ini (juga) punya hak dibaca oleh para pencari buku bermutu." (Firman Venayaksa, Presiden Rumah Dunia).

"Cerpen sebagai cermin gegar budaya kadang tak terasa pada cerpen-cerpen berlatar lokal. Karenanya, cerpen acap kali dibaca sepintas lalu tanpa menyisakan perenungan. Beda dengan kumpulan cerpen ramadhan FLP Jepang ini. Saya betul-betul diberikan ruang refleksi yang luas dan dalam. Saya optimis, bagi pembaca yang mencari alternatif wasilah pencerahan atas gegar budaya dapat menemukan jawaban pada kumpulan cerpen ini." (M. Irfan Hidayatullah, Ketua Umum Forum Lingkar Pena).

"Maka semakin greget pula diriku dengan hasrat mengunjungi negeri sakura, berkah dari keikhlasan berbagi kisah teman-teman kita ini. Semoga kita dapat jumpa suatu hari kelak. Ja mata atau sayonara?" (Pipiet Senja, Sastrawan Senior).

Judul Buku : Ramadhan Tiba
Jumlah Halaman : 312 halaman
Penerbit : Erlangga
Tahun terbit : 2008

Adapun judul dan nama-nama penulisnya adalah sebagai berikut:


Air Mata Ramadhan Aisyah-san (Lizsa Anggraeny)
Celengan Ramadhan (Ayu Maulita)
Ramadhan dan BonenkaI ( Fithriyah Abu Bakar)
Menggapai Hidayah-Nya (Rose F. Nakamura)
Bakso Ramadhan dari Fujisawa (Ina Wasanawat)i
SURVIVAL (Shofwan Al-Banna)
NATSU YASUMI (Sunu Hadi)
Ramadhan Tiba: Saatnya Wisata Kuliner Dunia ( Budiyati)
Hormatilah Aku, Karena Aku Puasa! (Roni Lawson)
MASIH ADA YANG BELUM MENGENAL PUASA (Aan Wulandari)
Mukena Buatan UmmI (Fithriyah Abubakar)
Ramadhan dan Bapak (Bunda Nasmah)
Ramadhan Merah Jambu (Ina Wasanawati )
GELAS TERAKHIR (Arida Istia)
Kidung Syahdu dari Negeri Seberang (Lizsa Anggraeny)
DANJIKI, GAMBATTE NE! ( Ellnovianty Nine)
Puasa Kenshusei Negeri Momiji (Sunu Hadi )
Republik Dagelan (Setta )
Kado Ramadhan ( Lizsa Anggraeny)
Oh…, Tidak Ada yang Percuma ! (Rose F. Nakamura)
Menjemput Lantunan Takbir Muslimah ( Fithriyah Abubakar)
Ramadhan, Jumpa Lagi Ya... ( Seriyawati )
Mamah dan I’tikaf ( Hermin Wicaksono)
Olimpiade Ramadhan ( Ayu Maulita)
Antara Umroh, THR dan Romlah ( Hermin Wicaksono)
KARENA KAMI DEKAT ( Sri Wahyuni )
Mukena Buatan Ummi ( Fithriyah Abubakar )
Lebaran Sebentar Lagi ( Ivandini)
Hadiah Lebaran Untuk Bunda Kami ( Irmayanti)
Merayakan Idul Fitri di Kota Salju ( Ellnovianty Nine)
Menjaga Diri Tetap Fitri ( Irmayanti)
Ritual Satu Syawal ( Setta )
FATIMAH KECIL BERPUASA DI NEGERI SAKURA ( Nesia Andriana Arief)
Ramadhan Musim Panas di Korea ( Nurhalita)


Buku sudah beredar di toko-toko buku besar.
Atau dapat memesan langsung kepada penulis (yang tinggal di Jepang) or distributor FLP yang ditunjuk, yakni sebagai berikut:
Indonesia : Irmayanti (irmayanti@gmail. com, 0815-1365-1156)
Jepang : Lisman Suryanegara (
l_suryanegara@ yahoo.com, (+81)774-38- 3658)

Alamat emailku: noviellnine@yahoo.com
YOROSHIKU!!!!

Monday, September 01, 2008

Aku, Bahasa Jepang dan Dunia Terjemahan (2)


Hi Friends, bosan nggak sih baca isi tulisanku. Sebelumnya ingin menyampaikan bahwa tulisan ini nggak ada unsur/niat sombong loh ya...hanya memenuhi request dari sahabat baru tersayang (duuuhh...sampe segitunya). Mudah-mudahan emang ada manfaatnya buat kita semua.

**********************************

Menyambung cerita sebelumnya, pekerjaan baruku di dunia penerjemahan ternyata menjadi pintu doraemon khusus bagiku. Lewat pintu doraemon ini aku jadi bisa keliling Jepang 'haratis!, bisa bertemu dengan banyak orang, bisa mengenal banyak hal, dan yang lebih kental terasa adalah rasa PD-ku jadi meningkat. PD not means sombong loh ya, tapi yang kumaksud adalah 'bisa karena biasa'. Berkat seringnya kerja nge-guide ini aku jadi tau persiapan apa yang harus kulakukan sebelum terjun ke lapangan.

Sekarang aku bicara dulu soal persiapan khusus itu ya. Kalo lagi mendapat kerja 'cuap-cuap', biasanya aku meeting dulu ama client. Yang dimeeting-in (ih penerjemah kok bahasanya gini ya.... ) itu biasanya:
1. Siapa calon tamu saya.
2. Asal dari mana, tujuannya apa.
3. Mau dibawa kemana selama tour nanti.
4. Dapat budget brapa nih....(jangan pura-pura nggak butuh deh...)

Dari 4 item itu aku biasanya akan melakukan study lanjutan sendiri. Mencari info soal calon tamu lewat internet (mata-mata dikit boleh kan yaaa...). Ini biasanya aku lakukan ketika tamuku dulu adalah: perusahaan besar seperti PT. Djarum, PT. Toyota Indonesia, PT. Mitshubishi, dst. Setidaknya aku nggak buta banget mengenai produk mereka, jadi bisa nyambung kalo ngobrol atau sapa tau mereka malah nguji aku.
Aku juga biasa membeli majalah-majalah wisata, misalnya kota Kyoto, Osaka atau tujuan wisata nanti. Majalah-majalah itu bisa dibeli di toko buku setempat. Nggak perlu harus terbang ke kotanya...cukup melangkah ke toko buku besar dan ngerogoh saku buat modalin diri sendiri. Mungkin ini termasuk cara menuju profesionalitas?. Kaliii...bagiku ini adalah hal yang 'atarimae 当たり前/seharusnya' dilakukan oleh seorang guide amatir kayak aku.
Hal lainnya yang aku (pernah) aku kerjakan adalah: pre-tour sendirian (kalo ini dalam kota ya!), liat jalur transportasinya (ini kalo lagi ngeguide anak-anak SMP tadi), cek lokasi, cek harga masuk, cek makanan dan tempat sholat (ini kalo lagi ngeguide tamu dari Indonesia) dst.
Selebihnya latihan jadi guide di kamar...hihihih. Pura-pura jadi guide, pura-pura megang mic, lalu cuap-cuap sambil ngintip hasil corat-coret tentang lokasi wisata yang akan dituju.
Dulu, aku pernah bekerja untuk sebuah travel, namanya Palm Travel di Kyoto. Yang punya suami istri campuran Jepang dan Australia. Big-bossnya si wanita Jepang, cerewetnya minta ampun deh!. Tipikal prefeksionis yang super duper galak dan bikin mundur calon penerjemah/guide. Giliran aku diwawancarai, rasanya tulang-tulangku menggigil. Orangnya to the point banget, dah gitu pake tes pura-pura jadi guide. Mesti ngomong apa, yang diomongin bener atau cuma ngarang...dst...pokoknya yang nggak kuat mental jadi mental deh...(hehehe).
Aku lolos karena mungkin pengalaman ngeguide anak-anak SMP tadi jadi nilai plus dimatanya. Lagipula memori di otakku tentang Kyoto masih bagus, jadi kalimat-kalimat yang keluar dari mulutku seperti air mengalir. Nggak dibuat-buat, paling-paling kalo lupa aku bilang: maaf aku lupa. Misalnya, berapa tinggi menara Kyoto Tower, dst.
Si m-punya travel malah tepuk tangan habis ngeinterview aku. Trus dia ngomong-ngomong keras-keras ke staffnya: kalian harus tiru dia!. . Maka jadilah aku dihire secara free-lance.
Prinsipku dalam bekerja (dalam hal ini sebagai penerjemah cuap-cuap) adalah mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Aku tidak perduli dengan berapa aku akan dapat bayaran. Mau kecil mau besar harus tetap menjaga kualitas. Itu ajah kuncinya. Supaya langganan bertambah dan aku tetap langgeng dipake. Biasanya selalu ada evaluasi akhir kerja. Apakah layanan kita memuaskan?, apa ada komplain dari tamu?, dst.

Dari pengalamanku di lapangan, ternyata mengguide turis dari Indonesia itu banyak kenangan lucunya. Sebenarnya pengen nulis: membuat geleng-geleng kepala, tapi ntar yang baca hanya dapat sisi negatifnya ya...padahal setiap orang berhak menilai itu sisi negatif atau positif bangsa kita.
Yang aku maksud tuh gini, dari sekian banyak mengguide mereka ada benang merah yang bisa aku tarik:
1. Orang kita senangnya diajak jalan-jalan ke down town. Mereka nggak tertarik dengan lokasi wisata seperti otera/shrine/temple. Mungkin ini ada kaitannya dengan setiap orang di Indonesia sudah memiliki agama yang tetap, jadi nggak tertarik dengan hal-hal di luar itu.
Pernah suatu kali aku nge-guide grup tour dari Mitshubishi ke Heian Jingu-Kyoto. Aku dah hafal 100% tentang tempat ini. Bahkan cerita-cerita menarik dari tempat ini sudah aku siapkan. Ternyata dari ke 35 orang yang jadi tanggung jawabku hanya 1,2 orang yang serius mendengarkan. Mereka ini beragama Budha. Ketika aku tunjuk sebuah patung yakni Dewa Rejeki, mereka langsung mengelus-ngelus kepala botak patung dewa tadi. Dan berdoa di depannya. Sedangkan member lain, malah asyiikk ngobrol bisnis mobil mereka!....
Begitu di ajak ke down town, liat mesin-mesin foto di game center, semuanya baru pada interest-heboh banget deh, malah kayak kuper gitu...hiihihih. Padahal mereka dah bapak-bapak dan ibu-ibu loh!. Rata-rata berusia 45 tahunan. Malah ada satu nenek yang juga sibuk berpurikura dengan anaknya, belom lagi yang lain sibuk dengan urusan sendiri-sendiri. Sampai-sampai aku kewalahan mengumpulkan mereka.Halah......kok gampangan ngatur wisatawan cilik yak!
2. Tidak terlalu disiplin. Ini yang selalu bikin aku pegel kalo lagi ngeguide. Dan entah kenapa ini berlaku untuk semua jenis tamu. Nggak tamu yang berpendidikan tinggi (level Direktur, PresDir), tamu yang dah lalu lalang ke LN, atau tamu yang baru bersentuhan ama dunia luar selain Indonesia.
Perbandingannya, kalo aku ngeguide anak-anak SMP/SMA mereka mau nurut kalo diberitahu. Tapi kalo dari bangsaku sendiri kok ya suliiit deh. Mungkin turis dari Indonesia kebanyakan senang ketemu aku, guide yang sesama orang Indonesia. Jadinya malah banyak curhat ini itu. Malah ngorek-ngorek brita buruk seputar orang Jepang. Trus nggak nganggap aku ini guide yang mesti didengar omongannya.
Biasanya yang aku sampaikan hal-hal kecil, misalnya kalo ke kamar mandi/tempat lain harus seijin guide, tapi selalu adaaa aja yang tiba-tiba ngilang. Nggak taunya lagi blanja!. Akibatnya membuat schedule secara keseluruhan menjadi sedikit brantakan.
3. Tidak menjaga kebersihan. Biasanya main buang ajah di jalan, dan ini harus sering diingatkan. Ada satu kejadian yang bikin aku shock!. Seorang PresDir PT.anu pernah enak aja buang sampah plastik bekas es-krimnya.
Waktu itu aku dan rombongan tamu lagi ngantri untuk naik sebuah aktraksi. Sebelum sempat aku mengambil sampah yang dibuangnya, salah seorang tamu cilik-cucu si PresDir bilang gini: Kek, sampah harus dibuang ke situ--menunjuk tong sampah. Si kakek cuma bilang: halah nggak apa-apa, ini diluar negeri kok!. Ucapan si kakek ditimpali dengan tawa ringan dari kaki tanganya....uuuhhhhh bikin telingaku merah!. Tau nggak apa yang dilakukan si cucu?. Dia tetap mengambil sampah buangan kakeknya itu lalu dimasukkan ke tong sampah. Erai!(hebat).
4. Perbedaan ekonomi yang jelas banget. Aku ngerasa banget gimana kayanya seorang tamu, walaupun dia dari Indonesia yang terhitung negara berkembang. Yang di sana sini masih penuh gelandangan, masih banyak anak-anak terlantar yang meminta-minta dijalanan. Si tamu ku itu malah punya heli-pat (?) --itu loh lapangan helikopter di rumahnya. Rumahnya itu di wilayah Jawa, itu bocoran dari clientku.
Ada lagi cerita menarik. Sebuah PT. A yang berlokasi di Jepang mengundang PresDIr dari PT. A juga (tapi yang di Indonesia). Nah sangking kayaknya si bos dari Indonesia ini, PT. A Jepang nggak sanggup bayarin paket tur si bos. Akhirnya cuma sebagian dari rencana tur itu dibiayai oleh pihak Jepang.
Suatu kali aku mesti bantu cek-in keluarga bos dari Indonesia ini. Nginepnya di hotel bintang satu Osaka. Harga permalamnya ammpuuunn deh!. Aku kebagian satu kamar bo!. Tapi ketika pembayaran, pihak Jepang minta aku menyampaikan kepada si bos, bahwa yang bayar adalah pihak Indonesia. Duuuh gimana nih nyampeinnya?, pikirku. Tapi akhirnya aku mencoba menyampaikan apa adanya. Lalu dengan santai si bos bilang: no problem!. Dari dompetnya keluarlah visa card berwarna emas!. Padahal jumlah rombongan dari Indonesia nggak sedikit loh!...Sugoi ne!(hebat ya).
Tapi ada juga tipe tamu dari Indonesia yang pas-pasan...hehehehe. Kayak langit ama bumi deh.
Masih banyak duka lain yang pernah kualami. Tapi senengnya juga banyak loh. Critanya di stop dulu....kepanjangan...........

Aku, Bahasa Jepang dan Dunia Terjemahan (1)

Ini cerita tentang latar belakang aku masuk ke dalam dunia penerjemah .

###################

April 1999 aku pindah ke Kota Kyoto, untuk mengejar cita-cita yakni masuk ke PT di kota ini. Sebelumnya aku menetap di Kota Shizuoka (1997-1999 maret). Di Shizuoka aku memperdalam ilmu Bahasa Jepang di lembaga bahasa Kokusai Kotoba Gakuin. Selama 2 tahun di Shizuoka, tiap hari kegiatan regulerku adalah ke sekolah dan kerja part-time. Ketika mendekati masa kelulusan, aku merasa kalau tetap tinggal di Shizuoka maka wawasanku tidak berkembang. Terus terang aku males tinggal di tempat yang sama, dengan lingkungan yang itu itu juga. Akhirnya aku mendaftarkan diri ke Universitas Kyoto Seika (swasta) dan sapa nyana diterima.

Sejak April 1999 itulah aku resmi terdaftar sebagai mahasiswa S-1, Fakultas Humanity Jurusan Lingkungan (social study). Aku tidak kuliah dari tingkat 1 tapi langsung tingkat 3, istilahnya program ekstension. Tapi aku bukan mau cerita tentang kuliahku, melainkan bagaimana awal mulanya bertemu dengan dunia penerjemah, seperti yang sudah kulakoni hampir 7 tahun ini.
*************************

Akhir 1999
Adalah sebuah organisasi NGO- TOBIUO (Fly fish) yang menjadi pembuka jalanku. Organisasi ini dimotori oleh seorang African, yang sama-sama menetap di Kyoto. Dia adalah motivator terkenal di Kyoto untuk berbagai event international. Aku bertemu dengannya karena waktu itu aku berperan sebagai manajer tim angklung PPI (Persatuan Pelajar Indonesia cabang Kyoto) dan akan meeting untuk sebuah event yang diprakarsai oleh sang African.
Singkat cerita aku dan sang African malah cocok-seide dalam banyak hal, sehingga dia menarik aku sebagai salah satu staf di organisasinya. Organisasi ini ternyata dibidani oleh banyak tangan, banyak tipe manusia dan beragam kewarganegaraan. Di situ pula aku bertemu dengan seorang Korean yang kini berhasil mengembangkan bisnis konsultan, termasuk terjemahan yang kini menjadi bidang kerjaku di Jepang.
Sebenarnya sang African dan sang Korean ini memiliki ide yang sama ketika mendirikan NGO-Tobiuo. Tapi berhubung yang satu jiwa bisnisnya lebih besar, maka dia (Korean) memutuskan berdiri sendiri dan mengarahkan event-event international menjadi lahan bisnis, bukan hanya volunteer spirit seperti prinsip Tobiou.
Awal 2000, berdirinya PT.b-Cause (tempat kerjaku sekarang).
Aku pun digaetnya sebagai pioneer yang bertanggung jawab untuk terjemahan Bahasa Indonesia-Jepang. Untungnya sang African nggak masalah aku 'mendua', karena dia senang aku berkembang. Mengapa aku menyebut diriku sebagai 'pioneer', karena pada waktu itu usaha ini baru benar-benar berdiri. Belum ada nama PT sebesar sekarang, karyawannya pun tidak ada. Hanya sang Korean dan 2 orang lagi (para pentolan Tobiou juga sih) yang bantu-bantu. Tapi sapa nanya malah berkembang hingga kini temanku (sekaligus bosku itu) bisa punya cabang di Tokyo!.
Dari sinilah aku mengenal dunia terjemahan dalam berbagai bentuk. Tidak hanya menerjemahkan paper ke paper, tapi juga turun ke lapangan sebagai intrepreter. Dulu job-descriptionku adalah:
1. Translation/penerjemah on paper.
2. Interpretation/penerjemah 'cuap-cuap'.
Khusus untuk jenis cuap-cuap, kerjaanku menjadi guide untuk wisman dari Indonesia yang berwisata ke Kyoto-Osaka-Nara dsknya. Aku juga jadi guide untuk shuugakuryoukusei 修学旅行生 (pelajar SMP yang berwisata ke Kyoto). Loh kok bisa?. Emang iya. Ini khusus di Kyoto loh!. Mengapa orang asing sepertiku jadi guide untuk pelajar-pelajar itu sih?. Pake bahasa apa nge-guidenya (hehehehe....kira-kira gitu kan ya?.).
Kyoto adalah kota wisata terkenal se-Jepang. Terutama yang kaitannya dengan sejarah negara Jepang ini. Biasanya pelajar SD-SMA dari berbagai kota se-Jepang yang berwisata ke kota Kyoto ini, adalah dalam rangka belajar sejarah yang biasanya mereka kenal lewat buku pelajaran. Itu adalah alasan pertama mereka ke Kyoto.
Sejak tahun 2000 ada program pendidikan baru di Jepang, yang dikenal dengan istilah: Kokusai Rikai Gakushu 国際理解学習 (belajar memahami dunia internasional). Salah satu caranya adalah belajar bahasa Inggris dalam berbagai macam pendekatan. Kira-kira dah ngerti belum kaitannya?. Jadi, bosku si Korean itu mengendus unsur bisnis dalam program ini. Lalu dia membuat planning yang intinya: "berwisata ke Kyoto, sambil mengenal dunia internasional lewat berteman dengan guide orang asing". Planningnya ini dikirim ke berbagai sekolah dan mendapat respon luar biasa. Setiap pihak sekolah rela mengeluarkan dana untuk menyukseskan program Kokusai Rikai Gakushu tadi.
Maka jadilah aku langganan guide untuk berbagai sekolah. Persyaratannya sang guide harus bisa berbahasa Inggris. Trus nanti harus menemani 'costumer'nya yang notabene pelajar-pelajar SMP selama di Kyoto. Biasanya sih cuma 1 hari, tapi bisa dari pagi (jam 9) ampe sore bahkan malam (maks jam 8 malam). Selama nemenin anak-anak itu muter-muter wisata spot di Kyoto, aku wajib berbahasa Inggris dengan mereka.
Terus terang aku seneng banget, karena:
1. Kerjaan ini membuat wawasanku tentang sejarah Jepang bertambah. Ini ada lanjutannya...aku sampai kerja di Pemda Kyoto karena pengalaman-pengalamanku di lapangan. Tunggu aja cerita ini ya!
2. Masuk ke berbagai spot wisata berulang kali (ampe bosan...hehehhee). Gratis pula!
3. Jadi kenal dunia anak-anak SMP Jepang. Selama bareng anak-anak itu biasanya akan muncul pertanyaan-pertanyaan yang harus kujawab. 'Anda berasal dari mana?', 'Menurut anda Jepang itu bagaimana?' sampai pada pertanyaan: 'Anda punya pacar?'.
4. Jenis pekerjaan ini sangat-sangat menghasilkan. Coba bayangkan: sekali ngeguide dibayar minimal 10,000 yen ( dalam rupiah :800 ribu-an), blom ditambah biaya transpor dan makan gratis. Padahal kalo aku part-time 8 jam sehari pun cuma dapat 6000 yen (480 ribu rp), jauh banget kan!. Part time dengan ngeguide itu jauh beda deh. Jelas ngeguide lebih menyenangkan.
Seminggu aku bisa ngeguide 2-3 kali. Kalo lagi musim wisata, waah tawaran bisa datang untuk jadwal tiap hari. Tapi berhubung aku pun seorang mahasiswa, jadi nggak semuanya dilahap. Di sesuaikan dengan waktu luangku.
*************************
Untuk sementara segini dulu ceritaku, udah kecapen karena seharian ke sana kemari nih. Low-batt, isi tulisanku pun pasti membosankan....soalnya nulisnya dengan mata setengah mengantuk...hihihihii.. Mudah-mudahan besok-besok ada energi baru....

Saturday, August 23, 2008

Kelahiran Tiara







Assalamu'alaikum wr wb


Puji dan syukur kami panjatkan ke hadirat Allah swt, atas kelahiran puteri ke-2 kami, TIARA NASHITA FADHILAH pada tanggal 24 Juli 2008 di RS Kiinkyo-Kikusui Sapporo pukul 15.06.

Dengan harapan Tiara-chan akan menjadi anak yang makmur/dimudahkan rejeki (Tiara: modified Arabic), aktif/energetik (Nashita: Arabic) dan pintar (Fadhilah: Arabic).

Sunday, June 29, 2008

Tersipu Malu

Hari minggu adalah "family day" untuk keluarga kecil kami. Ada "rule" yang baru saja diputuskan secara sadar, bahwa seluruh anggota keluarga harus mencurahkan perhatian "just for us". Bukan untuk hal lain, bukan untuk orang lain. Mencoba membunuh ego pribadi atas ketertarikan terhadap hal-hal lain yang tidak ada urusannya dengan "refreshing" bersama anggota keluarga.

Bagiku hari ini sangat "special." Istimewa karena keinginan lama yang selalu tertahan untuk membawa putri kami- Alma ke kebun binatang, akhirnya terwujud juga. Lebih istimewa lagi karena ide ini tiba-tiba diajukan oleh akang, suamiku tercinta.

Sebenarnya sehari sebelum hari H, kondisi badanku sedang tidak menentu. Tapi begitu mendengar ajakannya, entah darimana muncul banyak enerji baru. Teringat bahwa hampir sudah sebulan ini tidak ada "kebersamaan" yang sebenarnya. Kebersamaan dalam arti penyatuan hati dan pikiran. Kesibukan suamiku begitu padat, bahkan sebulan terakhir jiwa dan raganya terbang hingga ke negeri lain, meninggalkan istri dan anak sementara di sini. Aku merasa tali kasih kami sempat merenggang, bukan karena tak cinta, tapi karena waktu dan jarak begitu lama memisahkan kami. Dan aku menuntutnya untuk meremake "pure family day" di hari minggu. Khusus di hari minggu, tidak menuntutnya di hari lain.
Sejak keluar rumah, si sulung kami sudah lengket dengan sang ayah. Tangan mungilnya terus menerus bergelayut di leher ayah tercinta. Jika tubuh ayahnya menghilang dari bola matanya yang bersemangat itu, maka dia akan berkata, "ayah? matte matte yo!" (ayah? tunggu, tunggu dong!)

Selama menghabiskan waktu di kebun binatang pun, sang ayah adalah yang utama bagi neneng kecil kami. Pemandangan yang membuatku luar biasa bahagia. Keadaan yang membuat suamiku berlega hati. Begitu banyak versi cerita yang pernah kami dengar dari seorang ayah yang lama berpisah dengan si buah hatinya. "Anakku nggak kenal ama aku, nih!" atau "Aku dipanggil 'Oom' oleh anakku sendiri." Ini yang suamiku takuti. Bahkan suamiku pun mewanti-wanti diriku untuk selalu memperlihatkan fotonya kepada buah hati kami, ketika selama berhari-hari dia harus meninggalkan kami ke luar kota/negeri.
Misi Family Day kami menurutku mencapai hasil yang baik. Menambah lembaran manis diari kehidupan kami sekeluarga. Tak hanya bagi ayah-anak, tapi juga bagiku pribadi.

Ketika jadwal hari minggu ini ditutup di sebuah restoran, begitu banyak curhat mengalir dari bibir suamiku. Dia berkata, "Akang kemarin mengirim email ke Prof. De Xi Liu." Prof ini seorang kenalan suamiku yang bekerja sebagai dosen di Pittsburg University, USA. Aku diam menyimak.
"Akang bilang ke si Prof, bahwa akang menyanggupi untuk mengirim tulisan berupa "review journal." Review journal ini direncanakan untuk dipublish di majalah Pharmacy-Amerika.
"Wah, itu berita baik, Kang. Semoga diterima ya!" sambutku dengan semangat.
"Sebenarnya ada satu lagi yang sedang akang kerjakan, yakni menulis original article hasil penelitian akang. Ini untuk diterbitkan di sebuah Jurnal Farmasi Internasional."
"Kedua jenis jurnal ini memiliki rangking tinggi,"begitu tambahan suamiku. Yang dimaksudnya 'rangking tinggi' adalah tingkat kesulitan untuk menembus jurnal itu. Jadi suamiku ini sebenarnya sedang under-pressure.
Aku tak punya kata-kata yang bijak untuk menyemangatinya. Hanya sentuhan ke jemarinya, seraya berkata," daijoubu?" (akang tak apa-apa kah?)
Suamiku berkata sambil tersenyum, " Akang merasa terpacu karena melihat Opi yang begitu berusaha keras berlatih menulis." Aku terperangah, sedikit jengah, merona jingga, salah tingkah!
"Ah, akang..." cuma itu yang bisa terucap. Sambil terkekeh suamiku melanjutkan perkataannya,
" Akang melihat Opi hampir berhari-hari mengurangi jam tidur demi menyelesaikan naskah-naskah cerpen untuk Proyek Antologi Ramadan dan Proyek Antologi Ibu. Padahal tugas Opi di rumah pun banyak. Pagi-pagi Opi dah harus bangun untuk memasak sarapan, menyiapkan bento (bekal nasi) untuk akang. Sesudah itu seharian bermain dengan Alma. Di situ akang melihat ada semangat luar biasa yang harus akang tiru."

Mendengar penuturannya yang begitu panjang, membuat tanganku mengeluarkan recehan yen. Lalu menyerahkannya kepada suamiku. Dia tertawa terbahak! Abisnya, aku kan tengsin dipuja-puji oleh suami sendiri.
Inilah makna indah yang berhasil terajut di antara kami. Menurutku, pasutri itu perlu menyediakan waktu khusus untuk saling memandang pasangannya. Menyampaikan hal-hal yang terasa di hati, namun kadang tak terungkap karena padatnya tugas keseharian. Dengan satu hari di antara seminggu saja bisa membuat bumbu pernikahan pun semakin kental, enak dan sedap untuk disantap. Itu yang aku yakini dan ingin terus aku pertahankan.

Saturday, June 14, 2008

KD Babasahan di Niagara Falls


Hubby ku ke USA, tepatnya ke kota Boston dan Pittburg pada tgl 27 Mei-5 Juni. Balik ke Jepang bawa cerita seru banget. Tentang kehidupan sebenarnya di sana, itu berdasarkan kuping kiri kuping kanan ngumpulin info dari kolega-kolega beliau.

Hubby ku dapat 2 tugas presentasi di ASGT Seminar di Boston dan di Pittburg Univ. Di sini pun banyak cerita menarik yang dibagi-bagi ke aku.

Cerita-cerita itu dipending dulu ya.

Ini foto KD dulu aja yang babasahan di Niagara Falls (dilihat dari American Side).

Monday, June 09, 2008

Diajar Bahasa Apa Mbak?

"Sehari-hari Alma ngomong pake bahasa apa nih?".

Pertanyaan ini sering banget diajukan kepada kami. Ini ada kaitannya dengan lingkungan hidup dan pendidikan bahasa bagi putri sulung kami yakni Alma Nadia Fadhilah (Alma, 18 bulan).

Ayahnya Alma: "Bahasa Indonesia dong!".

Yang nanya (orang Indonesia): "Ooo...kirain Bahasa Jepang!".

Mungkin karena Alma lahir di negeri sakura, jadi kebanyakan dari teman-teman di lingkungan kami tinggal menyangka bahwa komunikasi kami dengan Alma disampaikan dalam Bahasa Jepang.

Yang bertanya tadi merespon jawaban kami dengan nada sedikit kecewa loh. Ayahnya Alma coba balik bertanya:

"Memangnya anak anda diajar Bahasa apa?".

"Kalo Dia (si anak) Bahasa Jepang!. Bahasa Indonesia nggak pernah tuh diajarkan".

AKu yang ikut menyimak hanya tersenyum. Bagiku bukan hal aneh kalo si anak itu diajar bahasa Jepang, karena dia terlahir dari pasangan Jepang-Indonesia. Kemudian dibesarkan di lingkungan Jepang.

Suamiku mencoba meluruskan.

"Alma juga diajar bahasa Jepang kok. Ditambah satu lagi bahasa asing yakni Bahasa Inggris. Tapi bagi kami (melihat wajahku) bahasa utama buat Alma adalah Bahasa Indonesia".

"Kenapa begitu Pak?. Kan dia sekarang hidup di Jepang sini?" tanya teman kami lagi.

"Iya betul. Tapi kami melihat jauh ke depan. Anak kami belum tentu akan dibesarkan di lingkungan sini seterusnya. Alma harus mampu berkomunikasi dengan kakek-nenek, sodara-sodaranya yang hanya bisa berbahasa Indonesia. Kami nggak mau mereka yang harus bersusah payah mengerti bahasa Jepang, yang jelas bukan bahasa ibu kami".

Tiba-tiba istri si teman itu nyeletuk:

"Iya, kemarin ibu mertuaku datang (ibu suaminya yang orang Indonesia). Tapi selama hampir sebulan tinggal di sini, nggak bisa nyambung kalo ngomong sama cucunya".

Mereka terkekeh, tapi aku mengerenyit. Kasian betul si nenek, pasti kan pengen banget ngajarin ini itu ke cucunya. Sementara kendala bahasa jadi barier tipis di antara mereka.

Tapi aku setuju dengan pendapat suamiku. Tak sedikit aku melihat pasangan suami-istri WNI yang punya anak-anak cakap berbahasa Jepang. Biasanya si anak-anak memperoleh kemampuan berbahasa Jepang dari Play-Group, SD or sekolah tempat mereka bersosialisasi. Sayangnya kemampuan anak-anak itu tidak didukung oleh kemampuan setara dari para ortunya. Jadi aku pribadi sering 'jangar' kalo mendengar mereka sedang bercakap-cakap. Kemampuan bahasa Jepang si ortu yang tidak mencukupi/ amburadul tidak seimbang dengan anak-anak mereka yang gape cuap-cuap in Japanese. Yang menarik justru, para ortu lebih bisa berkomunikasi dengan bahasa daerah masing-masing kepada anak-anak mereka. Ini mungkin karena dah kepepet. Nggak ngerti si anak ngomong apa, akhirnya si ibu or si ayah gusar lalu keluar deh bahasa daerah mereka.

Jadi ingat cerita suami baru-baru ini. Temannya yang tinggal di USA bercerita bahwa anak tunggal mereka yang hanya bisa berbahasa Inggris, sering manyun dan nggak nyambung kalo bicara dengan nenek/kakeknya dari Indonesia. Teman suamiku justru dianjurkan oleh seorang konsultan anak untuk mengajakan bahasa ibu kepada anaknya sejak dini.

*************
Aku dan suami merasa bersyukur karena dikarunia kemampuan berbahasa Jepang dan Inggris dengan baik. Aku, merasa cukup mampu menguasai Bahasa Jepang secara gramatikal sehingga kelak bisa menjaga perkembangan Alma dalam berbahasa Jepang. Sedangkan suamiku menguasai Bahasa Inggris dengan baik dan benar, dan bisa menjadi tutor anak-anak nanti dalam belajar Bahasa Inggris.

Sebenarnya aku pernah belajar Bahasa Cina selama 1 tahun. Semua buku yang berhubungan dengan bahasa ini lengkap. Aku merasa cukup gampang menguasai Bahasa Cina, mungkin pada waktu itu aku dah menguasai huruf Kanji Jepang. Walaupun tidak sama, tapi cukup membantu.
Selain itu sejak kecil aku sudah belajar mengaji, sehingga huruf-huruf Cina yang lafaznya lumayan susah bisa dikuasai dengan cepat. Kenapa?. Ternyata bunyi huruf-huruf Cina itu mirip banget ama beberapa huruf arab. Seperti bunyi 'sy..sh..za', dst. Tapi aku nggak mau gegabah ngajarin Alma or nanti adeknya berbahasa Cina. Ini karena aku tidak lagi menguasai bahasa ini.
Maksudku aku nggak mau setengah-setengah mengajarkan anak-anak bahasa asing. Di luar bahasa Jepang dan Inggris, mungkin mereka perlu dipanggilkan pengajar khusus kelak.

Bagaimana dengan bahasa Arab?. Ini pun aku tak menguasai. Yang aku kuasai adalah tajweed dalam membaca Al-Quran. Hasil menimba ilmu setahun di sini, dengan guru orang arab langsung. Plus maintenance sehari-hari yakni dibantu rajin ikut tajweed online dari salah satu grup milis muslimah se Jepang. Memodali diri dengan berbagai macam buku tajweed pun sudah terlaksana. Jadi Inshaa Allah siap bila ALma bertanya: Huruf Mad itu apa bu?. Soalnya hidup di lingkungan non-muslim seperti di sini harus tetap mampu mengajarkan agama Islam kepada anak-anak.

Terakhir, bagaimana dengan Bahasa Indonesia kami?. Nah ini nih...walaupun bahasa ibu sendiri tapi tetap harus punya ilmu dalam membimbing anak-anak nanti. . Aku lagi giat-giatnya belajar menulis, baik itu fiksi maupun non-fiksi. Ini sebagai salah satu tool aku mencoba mengerti dan mengembangkan bahasa Indonesia. Sekalian tujuan terselebung: jadi penulis bo!...hahahhahaha

Sapporo, 9 Juni 2008

Hari ini cek rutin kandungan. Kali ini aku ditemani oleh Mbak Nina, WNI yang suaminya adalah student di Hokkaido Univ. Mbak Nina ini baeee banget, pinter ngemong anak, jadi anakku-Alma pun betah lengket abis ama Nina.
Brangkat sejak jam 9 pagi, padahal badanku lagi capek banget. Ketemu Nagashima sensei seperti biasanya yang selalu dinamis. Kali ini sensei memberi aku surprise!.

Sensei: "Novi-san, rencana operasi tgl 24 Juli kan ya?. Apakah ada yang mau tachi-ai (mendampingi)?."

Aku: ????. Maksud sensei?.

Sensei: "Begini, ada kebijakan baru bahwa di rs ini akan diberlakukan ijin bagi anggota keluarga untuk menemani istri melahirkan di ruang operasi".

Aku: "Ohya!. Wah...senengnya!. Suami saya pasti senang sekali mendengarnya. Itu cita-cita dia sejak kehamilan pertama dulu. Hanya saja karena saya ceasar, jadi cita-cita melihat kelahiran anak kedunia tidak kesampaian. Rencananya suamiku hanya ingin punya anak 2 orang, jadi mungkin ini kehamilan terakhir bagiku"

Sensei dan suster pendamping geli melihat tingkahku yang kesenangan seperti anak kecil dapat mainan.

Gimana nggak seneng!. RS tempatku cek sekarang ini RS Pemerintah (bukan klinik bersalin), jadi tidak pernah ada keistimewaan bisa melihat kelahiran anak langsung, apalagi kalau sang ibu hamil akan dioperasi ceasar. Kalau lahiran alami mah biasa ya, suami/keluarga yang dipilih untuk mendampingi proses kelahiran.
Pernah sih aku baca di salah satu tabloid ibukota, bahwa Nugie (adiknya Katon Bagaskara) diijinkan merekam video kelahiran anak pertamanya yang lahir lewat proses operasi ceasar juga. Sempat mengerenyitkan kening, soalnya ruang operasikan harus steril banget. Selain itu anak yang lahir lewat operasi ceasar tidak boleh langsung didekap ibunya di ruang operasi, itu pun karena alasan kebersihan/steril.
Sensei: "Kalau Novi-san ada CD lagu favorite pun tinggal bilang aja. Ntar kita pasang biar kamu dengar selama di operasi".

Aku: "Waaah sampai segitunya sensei?. Kalau tidak salah waktu kelahiran Alma, musiknya classic. Itu juga udah cukup sensei".

Waktu lahiran Alma dulu, mana bisa mikir mau lagu apa?. Wong batinku berperang karena Alma nggak nongol-nongol ke dunia, padahal ketuban dah pecah duluan, aku dah diinduksi, 4 hari lamanya si nduk kecil ngendon betah di perutku.

Sensei: "Ehh nggak apa-apa. Jangan ragu-ragu, misalnya musik tradisional negerimu".

Aku terkekeh sambil meluk dokter wanita favoriteku ini.

Aku: "Ah nanti kalo sensei dengar musik unik, yang ada bukannya ngoperasi aku".
Sensei: "Enggak kok, saya pasti mampu konsentrasi...heheheh".


Aku: "Tapi kenapa mendadak gini sih sensei?. Maksudku, kenapa sekarang diijinkan anggota keluarga melihat proses operasi. Kan selama ini nggak boleh?. Trus sekarang ada plusnya, boleh milih lagu favorite untuk dipasang".

Sensei: "Iya, melalui rapat dengar pendapat, kami pihak rumah sakit sepakat menerapkan kebijakan baru ini dengan alasan bahwa suasana seperti itu akan memberi semangat kepada sang ibu. Juga merupakan bagian yang harus dipentingkan dan kami yakini merupakan bagian dari proses kelahiran itu sendiri".

Aku mengangguk-angguk.

Sensei: "Oya, kalau suamimu ingin merekam dengan video pun ok. Tapi bukan sampai melongok perut yang dibedah ya...hahaha...Yang direkam itu adalah timing ketika anakmu nanti diangkat keluar dari perut. Suamimu akan duduk disampingmu".

Segitu aja udah seneng sensei, nggak minta lebih deh. Happy.............

Monday, June 02, 2008

Info: Perawat Go International...

Mau ikutan sharing informasi...siapa tau bermanfaat buat yang membaca blog ini.

PROGRAM PENEMPATAN PERAWAT INDONESIA KE JEPANG

Sebagai realisasi dari kesepakatan G to G antara Pemerintah Indonesia dan Jepang dalam kerangka IJEPA (Indonesia-Japan Economic Partnership Agreement) yang telah ditandatangani di Jakarta pada tanggal 19 Mei 2008, maka Pemerintah Indonesia melalui Departemen Kesehatan RI membuka kesempatan bagi perawat Indonesia untuk bekerja sebagai Perawat (Kangoshi) di Jepang. Bagi perawat yang lulus seleksi (diharapkan 240 orang perawat) akan diberangkatkan ke Jepang pada bulan Agustus 2008 dengan masa kontrak kerja selama 3 tahun dengan starting salary sekitar 200.000-250.000 yen atau Rp 17,9 juta.

Persyaratan dan prosedur pendaftaran :
Perawat Indonesia, laki-laki dan wanita, usia 21 ・35 tahun ,
lulusan D-3 /S-1 Keperawatan tahun 2005 atau sebelumnya dengan pengalaman kerja di klinik/RS sebagai perawat min 2 tahun.
Berkas yang diperlukan (masukkan dalam 1 map berwarna merah)
Fotocopy ijazah dan transkrip nilai akademik yang sudah dilegalisir (bahasa Indonesia) dan yang sudah diterjemahkan dalam bahasa Inggris (dari institusi pendidikannya atau penterjemah resmi)
Fotocopy surat keterangan pengalaman kerja minimal 2 tahun dalam bahasa Indonesia dan terjemahan dalam bahasa Inggris.
Fotocopy KTP, Surat Keterangan Catatan Kepolisian/SKCK (asli), Kartu tanda pencari kerja/Kartu kuning (asli dan fotocopy yang dilegalisir oleh Disnakertrans).
Surat Ijin dari suami/istri/orangtua/wali yang diketahui oleh Ketua RW/Lurah/Kepala Desa.
Pasfoto terbaru latar belakang biru ukuran 3x4 cm = 4 lembar
Good performance (bagi wanita tidak dalam keadaan hamil, bagi pria tidak bertindik, dan baik pria maupun wanita tidak boleh bertato).
Mengisi formulir 5 di tempat pendaftaran
Waktu dan tempat pendaftaran : 27 Mei s/d 3 Juni 2008 di Puspronakes LN Depkes RI, Jln.Wijaya Kusuma Raya 48,Cilandak Jakarta Selatan,tlp 021 75914747 pswt 115 dan 021 7691531 Uji kompetensi tanggal : 5 Juni 2008 di Puspronakes LN Depkes RI Jakarta,
Pengumuman kelulusan uji kompetensi : 6 Juni 2008 dan akan diterbitkan Surat Tanda Registrasi (STR) Keperawatan dalam bahasa Indonesia dan Inggris oleh Depkes RI.

Bagi yang lulus akan mengikuti test kesehatan / Medical Check Up tanggal 6-7 Juni 2008
Finalisasi nama peserta yang lulus seleksi Depkes RI : 8 Juni 2008, penyerahan berkas ke BNP2TKI tanggal 9 Juni 2008.
Prosedur seleksi selanjutnya akan dilaksanakan oleh BNP2TKI dan JICWELS (Japan International Corporation of Welfare Services) meliputi :
Tanggal 9-11Juni 2008 :kelengkapan berkas administrasi meliputi persyaratan, keaslian dokumen, dan pemberitahuan jadual psiko test dan wawancara.
Tanggal 16-20 Juni 2008 : psikotest dan wawancara
Dilanjutkan dengan penyelesaian proses administrasi selanjutnya dan direncanakan dapat berangkat ke Jepang antara tanggal 3-9 Agustus 2008.Sosialisasi program ini akan dilaksanakan oleh Depkes pada :
Tanggal 2 Juni 2008 jam 10.00 WIB di Puspronakes LN Depkes RI Jakarta, tlp 021-75914747 pswt 115
Jakarta, tlp 021-75914747 pswt 115

23 Mei 2008 Kepala,
Dr.Asjikin Iman H. Dachlan,MHA
NIP 140 174 584