Tuesday, September 11, 2007

Selamat berpuasa sahabatku........




Assalammualaikum wr wb

Untuk semua saudara saudariku seiman, saya dan suami mengucapkan :


Selamat Menyambut Bulan Suci Ramadan.


Semoga usia kita dipanjangkan Allah swt untuk dapat kembali melaksanakan ibadah saum tahun ini. Semoga hasil ibadah saum kali ini semakin berkualitas dan nikmat terasa di seluruh jiwa dan raga.

Mohon maaf lahir dan batin atas kesalahan kami berdua.
Salam persahabatan selalu,
Diky dan Novi
de Sapporo

ps. "Dari Alma juga ya cance-cance...oom.."

Wednesday, September 05, 2007

Road To Japan

Sering mendapat pertanyaan dari saudara dan teman tentang sekolah dan bekerja di Jepang tergerak membuat tulisan ini. Dirangkum dari diskusi di milis dan berbagai sumber. Seandainya ada info tambahan atau teman MPers juga mau berbagi silahkan saja. Mungkin akan berguna buat teman-teman yang membutuhkan.
Mahal dan terbatasnya pendidikan dan sempitnya lapangan pekerjaan di tanah air, luar negeri bisa menjadi alternatif. Jepang sebagai negara yang terkenal maju teknologi, industri dan pendidikannya menjadi salah satu tujuan favorit.. Tapi untuk bisa menembus lapangan pekerjaan atau studi di Jepang bukanlah hal yang mudah. Karena persaingan yang ketat dan persyaratan yang lumayan rumit dibanding negara lain.
Tinggal di Jepang paling enak berstatus sebagai student. Tentunya yang mendapat beasiswa. Karena semua urusan administrasi kedatangan dan biaya hidup ditanggung pemberi beasiswa. Jumlah beasiswa yang diterima biasanya sudah standar untuk hidup sederhana di Jepang. Kalau mau ada tabungan mungkin bisa dengan baito(kerja part time). Dibawah ini link-link road to Japan melalui jalur pendidikan dengan beasiswa :
http://www.id.emb-japan.go.jp/sch_slta.html
http://panasonic.co.jp/scholarship/s2/index_e.html
http://www.hitachi.com/Int-e/skk/hsk12000.html
http://www.geocities.com/Tokyo/2578/scholarships.html
http://www.asiaseed.org/ayfj/
Ada juga program pertukaran pelajar SMA selama 1 tahun, teacher training 1,5 tahun. Informasinya bisa diperolah di kedutaan Jepang di Indonesia.

Adapun untuk bekerja, untuk skilled labor/tenaga profesional/kantoran agak susah jika tidak punya keahlian bahasa jepang yg level atas. Karena komunikasi tertulis dan bicara banyak dilakukan dalam bahasa Jepang. Kecuali bekerja di perusahaan multinational yg malah mensyaratkan bahasa inggris atau jarang berhubungan dgn klien Jepang. Makanya peluang skilled labor ini banyak diisi oleh WNI yg pernah belajar S1-S3 di Jepang krn mereka selain bahasa Jepangnya sdh baik juga very skilled (engineer/ researcher).
Jalur bekerja ke Jepang yang unskilled labor kebanyakan yg diminta pekerja pria dg usia produktif (25 thn-35 thn) tapi syarat ini relatif sih ..tiap penyalur beda2. Hanya berhubung skrg banyak kasus yg menimpa TKI di sini, utamanya kabur lalu jd overstay, akhirnya banyak penyalur yang di tutup atau dihentikan kerjasamanya oleh perush Jepang. Pekerja asing (kenshusei) biasanya bekerja ditempat yang :
1. Kiken (berbahaya) Kenapa walaupun berbahaya tetap banyak sekali peminatnya? biasanya pekerja-pekerja itu berasal dari negara-negara miskin atau berkembang. Diantaranya : Indonesia, China, Thailand, Filipina, Brazil, Peru dll. Karena lapangan pekerjaan dinegara asal sangat sedikit bahkan nyaris tidak ada. Dan orang jepang sendiri tidak mau bekerja ditempat Kiken.
2. Kitanai (kotor) Seandainya orang Jepang mau mereka minta bayaran 3 kali lipat dengan orang asing
3. Kitsui ( Capek/kerja kasar) Orang Jepang sekarang terutama anak mudanya rata-rata tidak mau bekerja kasar. Karena lapangan pekerjaan yang lain masih tersedia.

Pengalaman teman yang pernah bekerja sebagai kenshusei :
Kami merasakan betul bedanya antara sekolah dan bekerja di Jepang. Kasarnya kalau mau dibilang kerja di Jepang itu seperti budak atasan. Tidak ada perbedaan laki2 dan perempuan dalam hal kerja fisik, jam kerja yg selalu lebih lama dari yg ditentukan dgn waktu istirahat selalu lebih pendek dari yg ditentukan dan yg lebih menyesakkan kami dibayar jauuuuhh dibawah gaji orang Jepang. Awal datang sama sekali tidak pernah terbayang beratnya bekerja disini, namun tidak boleh tidak harus dilakukan. Akhirnya kami terbiasa juga dgn pola kerja di Jepang. Alhamdulillah kami bisa ambil hikmah banyak dari itu semua. Kami berdua jadi lebih disiplin, menghargai waktu dan tidak cengeng.
Untuk menembus Jepang dari jalur ini bisa melalui : Program tenaga kerja Indonesia-Jepang (CEVEST). http://www.cevest.or.id/
IMM yg testnya lewat depnaker daerah ( pernah baca di koran ada test IMM di depnaker sultra dan jateng ). Biasanya yg dicari pria bukan wanita. Karena memang pekerjaan yg dilakukan akan berat sekali seperti bekerja di pabrik besi, mengelas, mengecor dll. Sayangnya sejak tahun lalu kalau tidak salah...sudah dihentikan oleh pemerintah kita, karena banyaknya aduan dari perush2 Jepang, kalau pekerja dari IMM banyak yg kabur dan overstay. Aalasan TKI kabur macam2. Diantaranya tidak puas dg gaji yg kecil dan tidak sesuai seperti yg dijanjikan penyalur, potongan gaji yg cukup besar oleh penyalur/broker, kehidupan sehari2 yg minim, perilaku perush yg kurang baik, tergiur gaji teman yg overstay, dll.
Lewat jalur "magang" alias trainee "beneran" krn perusahaan Jepang tsb punya cabang di indonesia. Seperti dari national-panasonic, toyota, dll. Bisa juga lewat agen2 TKI utk pekerjaan di restoran tapi kalo perempuan sangat riskan jika bekerja di jepang lewat jalur agen ini. Seringnya mereka masuk dgn visa budaya/seni tapi nanti bekerjanya malah di karaoke dan bar. Ada juga yg malah terjebak jaringan prostitusi / trafficking ( kasusnya pernah masuk mainichi ). Bagi yg pria pun perjuangannya juga berat krn harus mengeluarkan dana yg sangat besar hingga puluhan juta. Banyak yg terjerat rentenir walaupun akhirnya sedkit demi sedkit bisa menyicil dgn berat bahkan banyak yg akhirnya bunganya lebih besar dari pokok pinjaman sehingga sampai frustasi krn sepertinya tdk pernah lunas.
Dengan visa pelajar misalnya lulus SMA-S1, trus mencari visa utk sekolah/belajar bahasa jepang tetapi selain belajar juga sambilan bekerja di pabrik. Atau memakai visa nihonggo gakko(kursus bahasa) kemudian setelah selesai, cari perusahaan yg mau terima kerja dan proses pindah visa ke visa kerja untuk 1 tahun dan bisa perpanjang setahun-setahun.
Lewat penyalur bekerja selama masa kontrak, pulang terlebih dahulu ke Ina beberapa saat. kemudian sekolah Nihongo gakkou 1thn dan dilanjutkan sekolah senmon gakkou 2thn. Yang ini sangat sulit tapi ada yang bisa. karena proses pindah dari status kenshushei (pekerja) ke gakusei (pelajar) sebetulnya tidak bisa. Alasan pihak imigrasi Jepang adalah para kenshusei itu terikat kontrak kerja antara pemerintah Jepang dan Indonesia. Di mana pada isi kontrak itu, mereka harus pulang sesudah mendapat training (2-3 tahun). Dan tidak ada ijin yang memperbolehkan mereka pindah visa langsung or tidak langsung. Sekarang ini para kenshusei mengeluh karena sulit sekali kembali ke Jepang. Bahkan jalan kembali ke Jepang sepertinya tertutup, hanya karena sebelumnya visa yang mereka pegang adalah 'kenshusei'. Walaupun tujuan berikutnya untuk belajar...sedih yaaa. Untuk kembali ke Jepang terpaksa deh umpet umpetan identitas. Bikin baru alias memalsukan identitas diri.
Saat ini di daerah tertentu seperti Futagawa-Toyohashi, Shimizu, Nagano, Fuji dan Kanazawa ada juga pekerja perempuan, hanya mereka disalurkan lewat SMEA dimana mereka sekolah. penyalurnya ini bernama JIC. Jadi mereka disalurkan lewat sekolah dan di kontrak selama 3 tahun.
Untuk pekerja perempuan lebih baik disarankan utk tidak melewati penyalur2 swasta. karena sangat banyak kasus jual beli wanita di sini dg kedok penyaluran TKW. Jangan tergiur dg pertukaran budaya, kerja menari, karena alasan ini sudah sangat bisa dipahami maksudnya, sebagian besar terjebak masuk ke dunia gelap di Jepang dan sulit utk melepaskan diri.
Disadur dari blognya sahabatku-Mbak Yati di Sendai (makasih ya mbak)

Saturday, September 01, 2007

Operasi Ceasar (1)

Aku ingin bagi pengalaman ketika menjalani proses persalinan hingga keputusan menjalani operasi ceasar. Banyak orang berpendapat bahwa, kalau melahirkan itu yang 'bener' adalah yang spontan atau normal. Sering ada kesalahpahaman mengenai para ibu yang melahirkan cesar, seolah dianggap tidak melalui perjuangan. Kalau ada yang tau bahwa aku melahirkan Alma melalui ceasar, tanpa disadari si orang itu akan merendahkan nada suaranya. ""Ooo ceasar...."".

Tgl 1 Desember 2006 jam 23.00, tiba-tiba air ketuban pecah.
Air panas mengalir deras keluar seperti pipis. Untung saat itu akang sudah pulang dari kampus. Bahkan kami sempat bercengkrama menjelang tidur. Tapi belum juga sempat terpejam mataku, tiba-tiba aku kebelet ingin pipis. Biasanya kalau usia kehamilan sudah 8 bulan, keinginan pipis akan semakin tinggi. Itu akibat rahim yang "bengkak" sudah menekan jalur rahim.
Diantara rasa cemas, bingung, deg-degan, aku dah geer duluan loh. "Ah, bentar lagi bakal ngelahirin nih". Akang pun yang udah tau kemungkinan ketuban pecah pada ibu hamil terlihat sangat tenang. Alhamdulillah persiapan kami kalo tiba-tiba harus rawat inap pun dah matang. Tas berisi peralatan-peralatan yang dipersiapkan untuk dibawa ke rumah sakit pun, sudah tinggal ditenteng saja.
Sesampainya di rs yang kami pilih untuk melahirkan, aku langsung diperiksa. Suster jaga saat itu sudah menyakini semuanya bahwa memang air yang keluar adalah ketuban. Penyebab ketuban pecah bisa karena banyak hal. Aku langsung masuk ke ruang khusus dan dipasangi alat deteksi jantung bayi. Aku dipantau hingga dini hari,ternyata, kontraksi nggak ada...kalaupun ada cuma bentar, dan itu pun kayaknya bukan kontraksi yang seharusnya.
Tgl 2 Desember 2006.
Lewat dari 24 jam, bukaan cuma 2 cm, without any contraction at all. Tapi deg-degan banget...soalnya ada harapan di hatiku semoga ada rasa sakit di perut. Untungnya setelah air ketuban pecah, penanganan yang dilakukan oleh para suster sangat baik. Aku diberi tablet penghenti air ketuban dan untuk menghindari adanya interaksi dengan bakteri dari luar.

Tgl 3 - 4 Desember 2006.
Lewat dari 36 jam tetap nggak ada tanda-tanda. Ruang kamar tempatku menginap ampe berubah 2 kali. Dari kamar pre-bersalin/bumben shitsu (bhsnya doraemon nih), ke ruangan pasien khusus tipe 2. Yang tadinya dilengkapi peralatan super lengkap..kap untuk deteksi jantung bayi, dll ke kondisi tanpa alat apa pun. Hanya diganti dengan alat deteksi jantung yang bisa dibawa-bawa. Sampe para suster yang giliran ngecek bilang gini: "kayaknya si jabang bayi belum mau keluar nih". Nah loh!!!....Yang terpikir olehku adalah, kalau nggak pecah ketuban mungkin dah disuruh pulang.
Berhubung tidak ada bukaan yang berarti akhirnya aku dipasangi alat perangsang. Dari alat kelamin dimasukkan pipet (lumayan panjang loh), yang ujungnya menggelembung. Dalam gelembung itu diisi obat perangsang agar terjadi bukaan di rahim. Alat ini dibiarkan sekian jam. Apabila keluar dengan sendirinya, maka dianggap gagal---tidak ada bukaan. Ini terjadi pada diriku.....hiks deh.
Rasanya secara mental aku mulai kalah. "Duuh anakku kapan nih keluar..kok ya tenang-tenang aja nduk...".Perut yang berat, bikin hatiku juga semakin berat. Mulut komat kamit nggak brenti berharap kepada Allah swt, mohon supaya calon bayi nggak kenapa-kenapa di dalam rahim. Kalau di Bandung kali udah dibeset dari awal yaa. Khawatir sang bayi keracunan air ketuban. Tapi di sini beda, bagaimana pun calon ibu akan diarahkan dan diupayakan biar lahiran normal.Pipet gagal, kemudian mulai besok hari diputuskan untuk diinduksi.


(bersambung)

Operasi ceasar (2)

Tgl 5 Desember 2006. Pagi hari.
Sudah tidak bisa lagi menghitung jumlah jam yang mengalir setelah air ketubah pecah. Rasanya udah lewat dari 48 jam. Sangking gelisahnya, aku paksakan khatam Al-Quran di rumah sakit. Selama mulai kehamilan, aku memangi sudah nazar mau khatam Al-Quran. Sebelum melahirkan sudah tamat satu kali. Berkat calon bayi yang tidak juga keluar, akhirnya aku khatam juga 2 kali. Ketika ketuban pecah, bacaan Al Quran udah masuk ayat-ayat pendek. Aku mengira nggak bakal khatam yang ke-2, ternyata Allah swt memberikan kesempatan untuk itu.

Aku juga menelepon ke keluarga di Bandung. Tak kuat aku menahan air mata. Sedih, ingin ada papa dan mama di sini....Aku meminta maaf kepada kedua orang tuaku, dan meminta doa agar aku bisa makin kuat melewati masa-masa persalinan.Sebelum induksi dimulai, akui di rontgen ulang, Posisi bayi di cek, dicari penyebab kenapa sih nggak ada bukaan?. 48 jam cuma nambah 1 cm . Ketika di rontgen, plus di USG, waktu itu Alma sehat wal'afiat. Gerakannya lumayan aktif. Lucunya, suster yang jaga di ruang USG ngirain opi cuma datang untuk cek mingguan. Katanya, "air ketubannya masih banyak loh. itu liat saja, bayinya lagi berenang-renang. Kalo tidak salah jadwal ibu melahirkan masih 10 hari lagi kan ya???". Aku ampe sebel sama tuh suster. Apa dia nggak liat kalo aku dah pake baju rawat inep???. Hehehhee bete banget deh.Di rontgen posisi Alma ternyata adem ayem. Maksudnya, keliatan dia stuck di sebuah posisi. Dokter Nagashima, yang nanganinku bilang, posisi Alma sebenarnya bisa diupayakan untuk lahir normal. Hasil foto rontgen dari samping memperlihatkan hasil bahwa posisi Alma normal.Tapi, kalo diliat dari atas, ternyata tulang panggul sebelah kananku kurang lebar. Padahal kepala Alma tuh udah keliatan nempel di jalur ujung panggul.
Dokter Nagashima mengembalikan keputusan kepada kami berdua. Akhirnya dicobalah induksi. Awalnya sih nggak berasa sakit. lama-lama rasa sakit luar biasa mulai terasa. Suster memasang rangsangan per 5 menit....Subhanallah sakitnya!!!. Yang ada cuma bisa berdzikir. Dipegangin akang sambil punggungku diurut-urut, lalu dibarengi akang yang ikut berdzikir. Setiap sakit terasa, kami berdua hanya bisa mengucap Astagfirullah....astagfirullah....Rasa sakit makin nggak ketahan. Secara mental aku dah down banget, jadi rasa sakit yang ada menambah beban di seluruh tubuh. Ketika kadar rasa sakit sudah tidak tertahankan, aku minta dipanggilkan suster. Ingin rasanya rasa sakit ini dicabut saja. Nggak kuat...nggak kuat. Aku takut menyakiti anakku sendiri. Yang ada di kepala cuma anakku...anakku..anakku. Keluarkan dia, jangan biarkan dia berlama-lama. Apapun caranya, aku siap. Di beset pun siap.
Suster mencoba mengecek jumlah bukaan. Tetap saja cuma 3 cm. Aku akhirnya minta ijin akang untuk memilih di operasi. Akang mengerti rasa gelisah batin ku. Akang mengiyakan, padahal aku tau bahwa impian akang adalah melihat persalinan secara langsung . Suami dan aku ingin punya kenangan moment saat melihat lahirnya bayi kami. Sayang sekali, jalan operasi harus ditempuh. Menjelang operasi, dokter menjelaskan bagaimana sebenarnya operasi ceasar itu.

Terus terang aku dah lupa apa sih yang dulu dijabarkan oleh dokter. Tapi kami berdua yang mendengarkan penjelasan sang dokter, seperti disadarkan dan dihadapkan pada kenyataan bahwa operasi ceaser itu bukanlah sebuah pilihan yang tidak mengandung resiko apa pun. Operasi ini ternyata menyangkut nyawa sang ibu dan bayi juga. Banyak kemungkinan terburuk yang bisa timbul pada operasi ini. Misalnya, pecahnya pembuluh darah di kaki yang berakibat cacat, serangan jantung, hingga kematian . Sayangnya akui sudah lupa detailnya.
So, kami berdua bisa bilang ke semua orang, bahwa operasi ceasar bukanlah 'cadangan' daripada proses kelahiran normal. Tapi, sama pentingnya dan sejajar dengan proses kelahiran normal. Cuma mungkin tidak banyak dokter yang bisa menerangkan dengan baik pentingnya operasi ini, termasuk dampak buruk daripada operasi ini.

Tgl 5 Desember 2006. Jam 16:00 Menuju ruang operasi

Masuk ke ruang operasi pun ternyata memerlukan keberanian. Kepasrahan, keikhlasan, dan optimisme bahwa inilah yang terbaik. Terutama buatku dan calon bayi.Melihat para dokter yang sangat telaten memberikan semangat kepadaku, rasanya mampu mengatasi beban di dada ini. Yang terasa saat itu adalah rasa sepi karena tidak ada akang yang mendampingi. Di dada hanya doa dan doa, semoga Allah swt mempertemukan kami lagi.Sekujur badan mulai kaku oleh suntikan, rasa sakit akibat induksi mulai lenyap. Tapi yang tertinggal adalah rasa tidak berdaya. Kembali akui mengingat Allah swt dan anak di dalam kandungan. "Sabar ya nak, sebentar lagi Allah swt akan mempertemukan kita".
Selama operasi aku hanya merasakan badanku ditarik sana tarik sini. Aku dibius lokal, dari bagian leher sedikit ke bawah hingga ujung kaki terbujur kaku.Suasana tegang di dalam ruang operasi membuatku jadi ikut tegang. DI situ terasa banget beban para dokter menghadapi persalinan. Menggigil sekujur tubuh ini. Mungkin aku akan mati! begitu sempat terlintas. Ketika terdengar suara tangis bayi.....yang pertama kali terasa adalah nafas lega diriku sendiri. Setelah itu air mata mengalir. Wajah Alma didekatkan pada wajahku. Duuh Nak, betapa bahagianya Ibu. Otsukaresama...(ucapan setelah bekerja keras).

Setelah Alma lahir, kami langsung rooming. Alma minum ASI pertamanya langsung dariku, tanpa ditambah susu formula apa pun. Hari kedua aku sudah belajar berdiri dan berjalan. Yang patut disyukuri juga adalah, biaya persalinan yang sangat murah . Semuanya ini bisa kulewati karena kekuatan dari Allah swt, support dan doa dari suami dan keluarga yang tiada henti, dan tentunya kerja keras para dokter dan bidan.

Sunday, August 26, 2007

Tentang Alma











Setiap hari bersama Alma sangat melelahkan, tapi sangat menyenangkan. Apalagi dia semakin "rame" aja. Aku paling suka sama senyum Alma.
Dia akan tersenyum lebar apabila:
1. Mendengar aku membaca kalimat pembuka ketika mengaji.
2. Mendengar aku membaca shalawat.
3. Melihat aku tegak berdiri hendak memulai sholat.
4. Mendengar pintu rumah yang dibuka, ketika akang pulang ke rumah.

Dia akan tertawa lebar apabila:
1. Melihat ekspresi aku pura-pura kaget.
2. Melihat akang tersenyum lebar.
***Senyum dan tawa Alma mirip banget sama akang.
******Gaya Alma ketawa: batang hidung dinaikkan, meninggikan suara seperti orang naik nafas dalam-dalam, tapi sambil membuka mulut lebar-lebar.
3. Naik elevator.

Kalau Alma digendong lalu menggeliat-geliat kegirangan, tandanya dia akan :
1. Diajak mengantar akang ke pintu depan, setiap akang akan keluar rumah.
2. Aku memperlihatkan buku cerita favoritenya.
3. Aku membacakan buku cerita favoritenya.
4. Aku pake jilbab, tanda akan mengajak dia keluar rumah.

Alma akang teriak panjang dan mengoceh apabila:
1. Aku dan akang lagi ngobrol dan dia dicuekin..hihihi.
2. Aku "rebutan" komputer dengan Alma.

Tapi Alma akan kalem, kalo tau ibunya lagi:
1. Nelepon ayah.
2. Belajar tajweed online.

Itu cerita tentang Alma.

Wednesday, August 15, 2007

Sapporo Membara.....

Sudah hampir seminggu belakangan ini rumahku berasa seperti oven kue. Panaaaasss banget!. Tiap kali kompor dinyalain buat masak, nggak sampe 5 menit punggungku sudah seperti sungai mengalir. Keringat nggak brenti-brenti membasahi seluruh tubuh. Pakai baju lengan pendek pun tidak cukup menyejukkan badan. Hati pun ikut membara.

Kipas angin hampir 24 jam dinyalakan, tapi kalah oleh panasnya udara Sapporo . Kepalaku sampe pusing karena menahan panas. Mungkin otakku menguap diisap udara panas.

Parahnya, udara luarlah penyebab semua ini. Hampir setiap hari aku bertahan di dalam rumah, tidak mau bepergian sampai matahari mulai beranjak ke peraduannya. Ternyata hal yang kurasakan ini juga dirasakan oleh seluruh penduduk di Jepang. Tahun ini kondisi cuaca terbalik-balik.

Menurut brita-brita di tv, daerah Selatan seperti Okinawa yang terkenal panas malahan tidak terlalu panas, tapi daerah uatara yang sejuk seperti Sapporo mengalami panas yang luar biasa. Bahkan di beberapa daerah timur hingga barat , seperti Tokyo, Osaka, Kobe dan yang berada dalam pulau yang sama menderita udara panas sejak pagi hingga malam hari. Rata-rata temperatur udara adalah 35 derajat, bahkan ada di beberapa kota yang mendekati 40 derajat.

Dalam cuaca panas begini, timbul korban meninggal. Belum lagi yang sakit, terkena penyakit kehilangan selera makan. Hal ini tidak hanya diderita oleh manusia, tapi juga oleh binatang (contohnya di kebun binatang).

Anakku Alma, usia 8 bulan, hampir tiap malam tidur setengah telanjang. Aku, juga suamiku selalu merasa gelisah, menggeliat kepanasan. Sempat terfikir olehku, kalau di dunia sepanas ini saja rasanya sudah tidak kuat, apalagi kalau nyemplung di neraka ya???...

Ada crita menarik. Baru-baru ini di sebuah kota, terjadi kepanikan baru. Yakni, pemadam kebakaran bolak balik menerima laporan alarm kebakaran berbunyi di berbagai perumahan. Tapi bukan karena kebakaran beneran, alarmnya berbunyi sendiri. Kenapa bisa begitu?. Karena, suhu di dalam atap rumah sudah mencapai 65 derajat. Suhu luar ruangan yang memang sudah tinggi masuk dan terkukung di dalam atap. Inilah yang menyebabkan suhu di sana menjadi tinggi.

Alhamdulillah hari ini cuaca sangat sejuk....duuuh...senengnya. Hanya saja diperkirakan bahwa kondisi seperti yang aku ceritakan di atas, masih akan berlangsung selama seminggu ke depan. OOOh tidaaakk....

Monday, August 13, 2007

Gigi baru







Dear Angku Sjarif dan Nenek Nian di Sadang Luhur.
Dear Engking Maftuh dan Eneh di Cibiru......

Malam ini kami bahagiaaa banget. Sangking bahagianya ampe tepuk tangan berdua. Apa sih yang bikin sebahagia itu?..Gigi Alma udah terasa keluar, tumbuh...alhamdulillah..plok..plok.Alma yang ditepuki cuma bisa nyengir...tapi dengan ekspresi bingung..hehehhee.

Kalau diingat-ingat, akhir-akhir ini Alma senang banget ngegigitin jari kelingking kaki Opi. Terus, kalau lagi ngedot ASI, agak terasa sakit...tapi Opi nggak tau dimana letak sakitnya. Ternyata, cucu yang satu ini udah mulai punya gigi.

Tadi malam ketika kita berdua makan malam, Alma ngunyah krupuk ikan. Sebenarnya kami khawatir karena takut nggak tercerna. Tapi malah kami bingung, soalnya krupuk ikan yang lumayan besar untuk ukuran Alma itu dikit demi sedikit nyusut panjangnya. Masa sih???...ternyata emang udah mulai bisa menggigit.

Ini malam bersejarah buat kami. Selamat tumbuh gigi yang dedek tersayang.

=Ibumu, yang masih happy=

Sunday, July 29, 2007

Mintalah kepada Allah swt maka.....

Assalammualaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Dear friends,

Mau bagi-bagi pengalamana rohani akhir-akhir ini ah. Sejak melahirkan, rasanya fluktuasi kegiatan ibadahku terasa menurun. Maksudku kualitasnya (kuantitasnya juga...walah!!). Yang kumaksud dengan kuantitas adalah ibadah-ibadah sunnah, seperti puasa sunah senin kamis, sholat sunnah Qobbliyah dan Ba'diah, sholat Dhuha, sholat sunah wudhu, sunah Tahajjud dan Witir. Kualitas ibadah (termasuk doa dan mengaji) pun berkurang karena semuanya dikerjakan dalam kondisi setengah hati, yang dikuasai kekhawatiran akan bayiku yang dibiarkan sendiri. Kalo dah gitu udah deh nggak konsen kayak dulu ketika masih single dan baru menikah (maksudnya sebelum punya anak).

Sedih deh menemukan bahwa diri ini sebagai manusia nggak ada nilai plus plusnya. Baik buat diri sendiri apalagi terhadap Illahi. Nah, baru-baru ini ( ketika mudik ke Bandung) aku mendapat nasihat dari mama. Nasehat itu berupa tata cara berwudhu. Ketika mengusap wajah maka mintalah kepada Allah swt untuk diberikan cahaya pada wajah kita. Ketika mengusap tangan, maka mintalah diberikan kitab Al-Quran di tangan kanan dan bukan di tangan kiri (di akhirat nanti, timbangan kebaikan lebih banyak). Ketika mengusap kepala maka mintalah ditambahkan ilmu , sedangkan ketika mengusap bagian kaki maka mintalah diringankan langkah kita di shidratul muntaha nanti menuju surga.

Langsung saja aku praktekan nasehat mama tadi. Yang sangat-sangat aku minta kepada Allah swt adalah tambahan ilmu, terutama ilmu aqidahku. Selama tinggal di Sapporo aku pernah belajar mengaji (tajweed). Ilmu itu sudah menipis...pis. Aku ingin sekali bisa memulai belajar memperdalam tajweed itu.
Ternyata, setiap usapan kepala itu tidaklah sia-sia. Di suatu pagi, Alma terbangun dan ingin bermain. Sehingga aku pun harus menemaninya bermain, padahal aku teler banget rasanya. Ketika itu entah darimana asalnya, Allah swt menggerakkan tanganku untuk mengambil sebuah buku yang berjudul KETIKA BERHALA MENYERTAIKU. Hasil karya tulis Ust. Aam Amiruddin, Dr.T.Djamaluddin, Ir. Bambang Pranggono, dan Prof. Deddy Mulya M.A. Terbitan : Percikan Iman. Padahal buku itu terletak pada sebuah rak buku yang tidak tersentuh lagi isinya.

Pada salah satu bab, ditulis bahwa "Orang-orang yang pandai itu, menurut Rasulullah saw, bukanlah para profesor atau para doktor, melainkan orang-orang yang sering mengingat kematian dan mempersiapkan diri untuk menghadapi kematian itu".

Aku termenung dan tercenung pada kalimat itu. Tiba-tiba aku merasa seperti ada yang mengingatkan. Bahwa apa sih sebenarnya yang sudah aku tanam setiap hari untuk kubawa mati kelak?. Di antara kesibukan mengurus rumah tangga, melayani suami dan menjaga Alma. Begitu sedikit sekali waktuku mengingatNya. Begitu sedikit sekali kegiatanku untuk meningkatkan kembali kualitas dan kuantitas ibadahku kepada Allah swt.

Mungkin Allah swt tidak butuh semua penyembahanku, tapi aku butuh semua penilaian dari Allah swt sebagai tiket untuk menikmati surga kelak. "Demi masa, memang sesungguhnya manusia itu merugi". Dan makin merugilah kalau kita lengah dalam kondisi seperti yang aku rasakan sekarang ini.

Aku mengusap kepala setiap kali berwudhu, dan meminta kepada Illahi agar ditambahkan ilmuku. Maka Allah swt mendengar permintaanku. Semoga ini awal dari sebuah langkah baru membuka tabir kegelapan yang sudah menyelimuti hatiku.

QS Al 'Araf 179:
Dan sesungguhnya kami jadikan untuk isi Neraka Jahanam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami ayat-ayat Allah, dan mereka mempunyai mata tetapi tidak dipergunakan untuk melihat tanda-tanda kebesaran Allah, dan mereka mempunyai telinga tetapi tidak dipergunakannya untuk mendengar ayat-ayat Allah. Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.
-catatan pagi-

Wednesday, July 11, 2007

Tadaima: We're back

Hallo tante-tante, Om-om yang baca blog ini. Alma dah balik ke Sapporo...capek tapi seneng. Ini foto Alma di Haneda Airport, nunggu brangkat ke Sapporo (setibanya di Jepang). Dan 2 foto di bawah, Alma bareng ibu dan ayah mejeng di Changi Airport (Singapore), waktu transit menuju ke Jepang dari Jakarta. Cerita lengkapnya nyusul yah...











Wednesday, June 13, 2007

Cerita di Bulan Juni

ABOUT ALMA
Tanggal 5 Juni ini usia Alma sudah genap 6 bulan. Udah lulus ASI Exclusive. ALhamdulillah. Kepandaiannya pun makin bertambah saja. Dia sudah gape telungkup dan telentang. Sudah tidak perlu diragukan lagi (cieee..). Dia pun semakin aktif memperhatikan benda-benda sekelilingnya. Apa pun yang terlihat di matanya akan segera dipegang, dicoba dimasukkan ke mulut. Pernah suatu kali aku sedang mengupas kulit lobak putih. Lobak itu panjangnya sama dengan tinggi badan Alma. Aku saat itu duduk di dekat ALma bermain. Segera saja dia menampakkan ekspresi tertarik dengan lobak itu, kedua tangannya di julurkan ke arah ku. Bagiku apa pun yang membuat Alma tertarik, akan aku usahakan memberikannya untuk disentuh. Tapi kali ini bikin geli deh.Ketika lobak putih itu aku dekatkan pada Alma, lalu dia berusaha menggenggam dengan kedua tangannya, maaasak dia mau masukkan ke mulutnya. 'Mana bisa toh neng...'Antara geli dan terharu nih..hihihi.

Setiap hari 1 kali aku usahakan membacakan buku cerita untuk Alma. Biasanya menjelang tidur atau kalo dia udah bosan bermain sendiri. Buku yang ada di rumah berisi gambar-gambar untuk bayi-bayi mulai usia 0 tahun, ada juga buku yang bermuatan cerita. Alma sudah mulai kuperkenalkan pada buku cerita yakni usia 1 bulan. Sekarang kalau aku bacakan buku cerita, maka dia akan ikutan mengeluarkan suara-suara. Mungkin dia juga bercerita yaa........



Buku cerita buat Alma tidak pernah bertambah. Cukup 4 jenis saja. Dan itu aku bacakan berulang-ulang. Dia sudah punya halaman-halaman favorite. Alma akan mengacuhkan buku cerita yang hanya berisi tampilan gambar-gambar saja. Nggak level kali yeee..hehehehe. Selain itu ada satu buku berisilagu. Berhubung tinggal di Jepang, maka buku lagu itu pun berisi lagu-lagu Jepang. Alhamdulillah aku sudah hafal isi lagu-lagu itu. Setiap dihidupkan aku berusaha bernyanyi di depan Alma, maka dia akan menghadiahkan aku senyum lebarnya.......

Ada satu PR besar yang sedang aku kerjakan saat ini. Yaitu memberikan MPASI dan susu tambahan.Kata dokter, berat badan Alma di bawah rata-rata. Saat ini berat badan Alma 6,5 kg. Tinggi badannya 67 cm. Keliatan langsing bila dibandingkan dengan bayi-bayi seusianya. Semoga Alma sehat selalu.


HOKUDAISAI

Minggu lalu, mulai tgl 6-9 Juni di kampus tempat suamiku bekerja berlangsung festival kampus.Terkenal dengan istilah 'Hokudaisai' (Hokudai = Hokkaido Daigaku/Univ. Hokkaido; Sai = Festival).Seperti sudah menjadi tradisi tahunan, kelompok mahasiswa Indonesia pun buka warung. Mungkin bagi rekan-rekan yang pernah kuliah di LN, tau deh festival-festival kampus seperti ini.Berhubung aku sibuk dengan Alma, tahun ini di'ikhlaskan' teman-teman untuk tidak ikutan masak di tenda. Tetapi kebagian masak telor dadar tipis untuk topping nasi goreng. Oya, nasgor adalah menu andalan yang dijual di warung Indonesia.
Selama ini ALma selalu bermain di rumah. Berhubung cuaca bagus (udah musim panas), maka hampir tiap hari aku ajak ALma main ke festival itu. Di belakang tenda kelompok Indonesia digelar kain terpal. Duduk-duduk di bawah pohon rindang sambil membiarkan Alma berguling-guling, bermain-main dengan teman-teman ayahnya meninggalkan kenangan indah. Alma keliatan banget senang dengan suasana alam. Seandainya pembangunan mall-mall di tanah air diimbangi dengan penyediaan taman-taman di dalam kota, maka bisa dijadikan sarana hiburan murah meriah dan tentunya dekat dengan alam. Semoga tahun depan kita masih bisa bermain ke sana ya neng.

MUDIK
Akhir bulan Juni ini kami sekeluarga akan mudik ke Bandung. Adik perempuanku Insya Allah akan melangsungkan pernikahannya, direncanakan tanggal 1 Juli. Selain melepaskan kangen dengan orang tua dan sanak saudara, juga mau ngenalin neng Alma van Sapporo nih. Perjalanan pulang kampung kali ini akan menjadi 'long journey' pertama untuk Alma. Doakan kami pulang pergi selamat yaa.......

Wednesday, May 16, 2007

Anak Buyaaaaaahhhhhhh

Di suatu malam.

Akang sedang maen-maen ama Alma. Trus aku ikutan.
Akang menghadapkan Alma ke depanku, kemudian aku ajak Alma bicara.

Aku: Almaaa......anak ibu sedang maen ama ayah yaa...
Alma: 'aaaaaaaa...' melonjak-lonjak kesenangan.
Akang: Wah, kok cuma anak ibu sih..............
Aku (kaget).
Aku: Nggak maksud apa-apa kok kang...cuma kebiasaan aja kali.
Akang: Iya, tapi ntar keimput loh. Alma taunya dia anak ibu.
Aku: iya..yaa...enaknya dipanggil gimana yaa...

Tiba-tiba Alma nyeloteh:
"Buyaaaahhhhhhhhhhh"

Aku memandangi akang.
Tring..tring..ide muncul nih.

Aku: Oke deh kang, mulai sekarang manggil Alma jadi 'anak buyaahh'. Maksudnya: anak ibu dan ayah.

Akang: siiiiiiiip

Ibu: Alma, makasih ya udah ngajarin ibu........

Saturday, May 12, 2007

Bayi itu sudah pandai...




Hari ini ALma keliatan nggak semangat. Ini terlihat dari gerakannya, responnya, tatapan matanya. Sejak kemarin mata sebelah kiri Alma agak merah. Dia sering sekali menggosok-gosok wajahnya di kala tidur. Seperti orang mengigau. Kalo mengigau kan berbicara, nah Alma biasanya menggaruk-garuk wajahnya. Ketika tidur suhu tubuh bayi akan naik, salah satu alasan mengapa sebagian bayi tidur sambil menggaruk-garuk adalah karena rasa panas di bagian wajah dan kepala. Akibatnya sering ada luka-luka kecil. Sesekali jari jemarinya yang mungil itu mengenai bagian mata. Akibatnya matanya ter-iritasi. (Atau bisa juga karena debu. )

Seperti biasa Alma bangun jam 10 pagi. Aku bersihkan wajahnya dengan air hangat. Lalu aku ganti bajunya sambil mengoleskan pelembab kulit-vaseline yang kuperoleh dari Dokter Kobayashi. Aku juga memberikan massage ringan ke seluruh tubuh dan kening Alma. Biasanya setiap bangun tidur Alma akan tersenyum lebar, tapi sejak pagi ini Alma tidak banyak tersenyum. Hmm...itu pertanda kalau dia kurang enak badan.
Setelah kuganti bajunya, Alma kugendong dan kubawa ke ruang tv. Untuk ganti suasana hatinya. Di sini pun Alma nggak terlalu semangat bermain. Dia malah marah-marah. Memukul-mukul mainan yang kuberi, lalu menggeser-geser tubuhnya yang kuletakkan di kursi malas ke bawah atau ke atas. Ketika akan kutelungkupkan, dia pun marah-marah. Aku segera mengendongnya, memeluknya, bernyanyi untuk menenangkannya.

Nafsu makannya pun tidak terlalu tampak. Setiap satu suap kusendokkan makanan ke mulutnya, dia langsung memasukkan tangannya. Seperti hendak menolak suapan berikutnya. Melihat hal ini aku terus terang merasa amazing. Bayi ternyata memiliki respon tersendiri untuk menolak.

Hari ini aku sudah membulatkan tekad untuk menyelesaikan setrikaan. Kebetulan jumlah baju yang menumpuk tinggal sedikit lagi. Dan itu pun hanya baju-baju ALma. Aku pindahkan Alma dan pernak-pernik mainan, kasur,kursi malasnya ke ruang serba guna di apartemen kami. Di ruang ini ada baby bed, seperangkat komputer dan printer, meja setrika, juga rak buku. Di ruangan ini aku dan suami sering berjamaah. Makanya kami sebut ruang serba guna.
Sambil menyetrika Alma yang telah duduk di kursi malasnya ku dekatkankan ke jendela yang membatasi ruangan ini dengan branda luar. Di situ ada sinar matahari sore yang menyengat masuk tetapi tidak panas. Udara hari ini bagus, tetapi sedikit dingin.Dengan mendekatkan Alma kepada udara luar akan membantu pembentukan kekuatan dalam tubuhnya. Sedangkan cahaya matahari sebisa mungkin tidak langsung dikenakan kepada bagian tubuhnya. Menurut dunia kedokteran Jepang saat ini, kebiasaan dan kepercayaan bahwa memandikan bayi dengan cahaya matahari akan memenuhi kebutuhan bayi akan vit D sudah dianggap tidak layak lagi. Mengapa? ,karena cahaya matahari zaman sekarang sudah tidak seaman dulu lagi. Terutama dengan adanya kenaikan panas bumi yang mengakibatkan lapisan ozon telah mulai robek. Adalah berbahaya memandikan bayi zaman sekarang dengan cahaya matahari yang tidak lagi sepenuhnya terhalangi oleh lapisan ozon. Sebagai gantinya pemenuhan vit D dapat diperoleh melalui makanan.

Alma sangat kooperatif. Dia sangat menikmati udara luar yang sesekali terasa dingin olehku. Hanya 20 menit Alma bertahan dengan kondisi baru itu, dan dia mulai merasa bosan lagi.
Yang menarik bagiku selama ini adalah, rasa bosan yang dialami bayi bisa langsung dialihkan dengan suara ibunya atau anggota keluarga yang lain.Misalnya aku bernyanyi, atau mengajaknya bicara sambil menatap matanya dalam-dalam. Maka dia akan senang. Ketika aku mengeluarkan suara, maka Alma akan segera menyahut. Akhirnya terjadilah percakapan antara aku dan bayiku. Suara yang dikeluarkan ALma disebut 'Nango' dalam bahasa Jepang. Yakni bunyi-bunyi seperti 'Aaaaaa', mengoceh tanpa suku kata, bernada panjang dan terkadang melengking. Itu pertanda dia senang. Apabila sang ibu atau ayah mencoba menyesuasaikan diri dengan ikut bernada yang sama, maka bayi akan senang sekali. Dia akan mengerti bahwa di depannya ada lawan bicara.
Bayi terlahir sudah lengkap dengan kepandaiannya. Maka tugas orang tualah yang mengaktifkan, mengarahkannya, melatihnya dengan cara memberi respon yang cukup banyak. Dengan cara berinteraksi seperti menyentuh tubuhnya, bernyanyi, mengajaknya berbicara,akan membuat orang tua bisa banyak belajar kapan bayi itu senang, kapan bayi itu tidak senang.

***Ketika tulisan ini selesai, Alma telah tertidur di belakang ku. Masih banyak misteri kepandaian yang akan kau ajarkan pada kami Nak....

Friday, May 11, 2007

Ofuro



Sudah 2 hari belakangan ini, aku mandiin Alma dengan cara masuk ofuro. Ofuro itu semacam bath-tub nya orang Jepang. Bentuk ofuro di apartemen kami segiempat dan ada kedalamannya. Cukup untuk menampung tubuh orang dewasa. Masuk ofuro itu dengan cara duduk. Hmm..berendam air panas emang uuueennaak. Sebenarnya tujuan masuk ofuro itu adalah agar Alma bisa tidur pules. Kalo badan anget kan pasti bikin ngantuk. Ternyata eh ternyata, nggak terlalu ngaruh ke Alma...Habis ofuro emang Alma ngantuk, apalagi di massage ibu. Tapi jam tidurnya tetap aja pendek..gubrak deh!. Masuk ofuro itu idealnya malam hari, sekitar jam 8 ke atas. Sebelum tidur. Kata teman-teman, menurut buku pun cara ofuro dengan air hangat bisa membuat baby pulezzz tidurnya. But, buat Alma nggak ngaruh tuh!. Tetap aja lincah, cenghar dan segar bugar. Selama di dalam ofuro aku nyanyi-nyanyi buat Alma. Dia keliatan senang. Apalagi kakinya bisa berenang-renang....Ayo nak, keep ofuro-an...Ayah...ikutan yuukkk.

Wednesday, May 02, 2007

Nihongo Gakko...ohh..riwayatmu kini

Udah lama sebenarnya ingin curhat tentang satu hal, tapi nggak terlaksana aja. Kebetulan hari ini sejak pagi udah kepikiranmau nulis, eh curhat. Dipaksain ah...mumpung Alma lagi bobok . Yang mau dicurhatin tuh sebenarnya rada ruwet dan kayak benang kusut. Nggak tau deh selesai ngebaca ini, sahabat2 pembaca (ciee..)ikutan kusut. Hehehe..jangan ampe kejadian deh.
Isi curhatku berawal dari tahun 1996 (**tring..tring..melayang-layangseperti time mechine). Aku berangkat ke Jepun tuh lewat program 'nihongo gakko'. Hmm..simpelnya, semacam sekolah bahasa Jepang. Selevel kursusan di atas dikit tapi dibawah sekolah tinggi..mungkin loh!soalnya nggak pernah ngecek ke Dikti-Jakarta. Cumaaa..yang bikin program ini menarik adalah, setiap calon siswa ntar di Jepun bisa kerja. Cari duit sendiri, dan diberi gambaran dengan uang itu bisa ngebiayain sekolah dan kehidupan sehari-hari. Siapa coba yang nggak kepengen. Info program ini aku dapat karena aku dulu mahasiswi sastra Jepang-D3 Unpad. Sebelum aku ikutan program ini, udah banyak senior bahkan teman seangkatanku yang nekat pergi dan ninggalin kuliahnya di Unpad. Kalo aku sih termasuk tipe manusia yang cuek cuek beibeh..cuek tapi rada butuh gituuu...Temen-temen pada kebelet berangkat, mosok aku nggak...hihih. Terus aku diskusiin sama ortu, boleh nggak nih berangkat. Tahun itu, ekonomi Indonesia belum hancur. So, biaya keberangkatan cuma 9 jt aja. Itu udah include: tiket pesawat ke Jepang (one way), administrasi ini itu masuk sekul, and biaya hidup 1-2 bulan pertama di Jepangnya nanti. Kebayang nggak sih, dengan uang segitu bisa brangkat ke negeri papan atas, yang kabarnya suseeeeh buat sekolah apalagi tinggal di sana. Kesempatan ikut program ini dulu sangat dibatasi, hanya untuk orang yang kuliahnya di sastra Jepang. Boleh di Unpad, bolehdi tempat lain. Pokoke, nyang megang hak untuk program ini UNPAD!. Ingetin ya: cumaUNPAD!.

Prosesnya rada belat belit...tapi nggak usah diceritain deh bikin bad memory kubalik aja. Dan bisa ngegosipin para dosen yang terlibat deh. Yang pasti: aku makasih banget udah diurusin ke Jepang.
Aku nunggu sekitar setengah tahun, akhirnya dinyatakan lulus seleksi dan brangkatnya tgl 7 April 1997. Nggak ada ujian untuk ikut program ini, hanya perlu ngisi formulir yang buanyak banget. Berisi data2 kita-calon siswa dan setelah diisi akan dikirim ke 'nihongo gakko' yang dituju. Lalu diproses, di cariin'ortu angkat', dan kalo 'ortu angkat' bilang: Yes, bisa deh brangkat. Jadii..dulu itu keberangkatan calon siswa tergantung banget ama ada tidaknya calon orang tua angkat. Tentunya juga dokunya ada or tidak.

Akhirnya aku sun papa, mama di airport sambil berjanji nggak akan ngerepotin beliau-beliau soal financial selama aku kuliah di Jepang...(ciieee kuliah bo!). Aku juga janji ke papa, bahwa selesai kuliah bahasa ini, aku ngelanjutin ke universitas. Kan aku baru punyai jazah D-3 sajah dari Unpad, nah mumpung sekolah ke Jepang sekalian aja ke universitas, ngelarin sarjana...gitu. Dulu itu semuanya terasa simpel..pel. Oya, program sekolah bahasa ini lamanya 1,5 atau 2 tahun. Selama itulah semua siswa nggak boleh pulang. Kenapa nggak boleh pulang?...setelah nyampe di sana, terus ngejalin hidup, aku baru tau makna nggak boleh pulang itu. Bukannya nggak boleh pulang, tapi...nggak bisa pulang. Duitnya dari mana jeng!.
Awal hidup disana aku ngerasa mulus2 aja. Baru seminggu nyampe, udah dapat part time. udah dapat kerjaan. Tapi ada teman-teman yang brangkatnya bareng ke Jepang yang susah dapat kerjaan. Banyak yang ngeluh karena kerja di Jepang tuh nggak bisa nyantai. Sambil kerja ngobrol dikit aja ditegur. Mesti berdiri berjam-jam, nggak boleh duduk. Emang di Indonesia! nyang kalo kerja sambil ngobrol!. Tapi, bisa jadi di Jepang juga keterlaluan,maksudku kayak robot...kerja serius banget. Senior ku di Jepang yang juga datang dengan program ini banyak banget yang kini berhasil. Baik yang memilih menetap di Jepang untuk bekerja, atau yang kembali ke tanah air.
Program ini seperti 'madu' yang dikerubungi lebah. Bunga yang saripatinya diminati serangga. Program seperti ini kini menjamur, baik di Indonesia maupun di Jepang sendiri. Yang tumbuh subuh di tanah air adalah pihak-pihak yang menjadi 'loket' penawaran hingga pengurusan untuk mengikuti program ini. Sedangkan di Jepang sendiri, terutama di wilayahTokyo, Shizuoka, Gifu, Kyoto, Nagoya dan Gifu, bermunculan sekolah-sekolah bahasa Jepang seperti tempat aku sekolah dulu. Kemunculan 'petugas loket' dan 'pihak sekolah bahasa' ini dibarengi dengan bertambahnya peminat dari tanah air. Sampai waiting list bo!. Tapi bagi yang berduit, siapa cepet dia dapat deh. Biayanya sekarang minimal 45 juta loh (wuuihh...takuut).

Kalo dulu (setauku), hanya UNpad (dalam hal ini universitas) yangmengurusnya. Tapi kemudian muncul pihak-pihak yang berkedok 'yayasan anu' yang bisa menjembatani program ini. Kemudian peminat yang mendaftar tidak harus bisa berbahasaJepang, siapa saja boleh. Dari tamatan SMA hingga hingga 35 tahun. Yang berusia lebih dari35 tahun meng'akali' usianya dengan bikin KTP palsu (beneran loh!). Nah yang menjadi masalah besar saat ini ada 3:
1. Biaya keberangkatan yang sangat besar. Rata-rata menjadi minimal 45 juta.
2. Tujuan sekolah di Jepang. Banyak sekali sekolah-sekolah baru yang manajemen sekolahnya buruk sekali, hingga lebih mementingkan memeras uang para siswa daripada mengajar siswa-siswa itu dan mencarikan kerja paruh waktu yang seharusnya menjadi andalan program ini. Banyak sekali yang mengumpat, marah-marah karena merasa tertipu dengan program ini, kemudian memutuskan lari menjadi imigran gelap.
3. Pihak yayasan yang hanya bertujuan meraup uang sebanyak-banyaknya. Padahal perlindunganterhadap para siswa yang terlantar (baik dari segi pendidikan, maupun tidak mendapatkan pekerjaan) tidak diurus dengan baik. Dianggap: itu sih urusan loe!. Pahitnya lagi, beberapa orang pemilik yayasan ini adalah orang yang bekerja di Kedubes RI-Tokyo! Rasanya sama aja seperti menyelundupkan TKI-ilegal berkedok siswa.

AKu prihatin banget dengan perkembangan nihongo gakko sekarang ini.AKu bisa menulis ini karena aku pernah terlibat di dalam pengurusan pengiriman siswa-siswa tersebut.Sekitar tahun 2005 (masih di tanah air), aku ditawari untuk bantu-bantu sebuah yayasan untuk program ini. Kebetulan nyang punya yayasan aku kenal keluarga. Dengan pemilik yayasannya sendiri belum pernah ketemu muka, tapi tau crita-critanya dari ortu dan sanak saudaranya. Plus karena dulu senior di SMA,rasanya udah yakin aja kalo tujuan program ini bakal baik.
Ternyata eh ternyata, nggak semulus itu. Aku berbusa-busa kepada semua calon siswa yang aku temui. Aku bilang bahwa program ini baik, bisa bikin kita mandiri. Aku bisa crita detail ke calonsiswa/peminat karena aku juga dulu pernah menjalani program seperti ini. Sayangnya kebanyakan dari para siswa yang ikut akhirnya terlantar di Jepang. Tepatnya di kota Gifu,Nagano dan wilayah bagian Tokyo. Sekolah-sekolah yang dituju ternyata masih amatiran. Mereka dijanjikan dapat part-time, tapi bohong habis. Semua siswa mengeluhkan hal ini kepada pemilik/pengurus yayasan (termasuk kepadaku). Aku mati-matian mendiskusikan cara melindungi para siswa, tapi pemilik yayasan tidak brani bertindak lebih jauh. Akhirnya aku pukul genderang perang kepada pengurus yayasan dan keluar dari usaha itu. Aku merasa telah membohongi para siswa. Duuuh hujatan para siswa terasa seperti akan melemparkanku ke neraka. Aku tidak berdaya. Pemilik yayasan pun tidak lagi perduli. Abis sudah dayaku untuk melindungi mereka. Jumlah siswa yang terlantar terlalu banyak. Ada yang akhirnya lari dari sekolah dan menjadi imigran gelap. Ada yang visanya tidak diperpanjang, lalu dipulangkan. Ada yang bertahan melanjutkan ke institut yang aku ragukan keberadaannya. Tapi....kondisi seperti ini pasti tidak akan berhenti sampai di sini.

Aku sering mendiskusikan hal ini kepada seorang guruku di nihongo-gakko yang lama. Kebetulan guruku ini sudah jadi kepsek sekolah itu. Dia, sebagai seorang pendidik sekaligus pengurus sekolah merasakan hal yang sama seperti yang aku alami. Katanya, akhir-akhir ini pengiriman siswa ke sekolahnya tidak lagi seperti di angkatanku. Banyak sekali siswa yang akhirnya tidak sekolah dengan serius. Hanya sibuk bekerja, mengumpulkan uang dst. Akibatnya pihak sekolah ditegur oleh pihak imigrasi, karena terpantau banyak sekolah yang siswanya bekerja paruh waktu dengan jumlah waktu kerja yang melanggar UU kerja di Jepang. Kata beliau lagi, semuanya bisa jadi kusut begini karena pihak pengirim dari Indonesia tidak lagi mementingkan kualitas calon siswa, tapi hanya kuantitas. Kuantitas = money.
Sayang sekali program sebagus ini kini tidak lagi terjaga. Banyak sekali manfaat ikut program ini. Tapi karena kondisi ekonomi Indonesia yang kian jelek, sehingga banyak sekali calon siswa yang datang dengan uang terbatas. Bahkan ortu-ortu mereka mengusahakan uang keberangkatan dengan calon pinjam sana pinjam sini. Akibatnya para siswa sibuk membanting tulang untuk mencari uang. Lelah batin dan fisik. Akhirnya, uang yang didapat di Jepang hanya habis dipakai untuk melunasi hutang-hutang itu.Waktu untuk belajar pun berkurang. Apalagi tenaga untuk berfikir sudah terkuras karena bekerja mati-matian.
Semoga program ini tidak terlalu membusuk. Aku sendiri merasa bersyukur karena aku sudah punya hubungan baik sekali dengan guruku itu. Beliau mengatakan, apabila ada saudaraku (terutama yang kandung) akan kuliah di sekolah itu, bisa langsung mengirimkan formulir. Tidak perlu lewat yayasan anu atau Unpad. Setidaknya aku bisa merasa aman karena aku yakin sekolahku dulu itu sangat-sangat berpihak kepada para muridnya. Sehingga murid-muridnya pun bisa bersekolah dengan baik. Kalaupun ada saudaraku yang bersekolah di situ, insya Allah akan diperhatikan dan dididik dengan baik seperti aku dulu.
So, kalau ada dari rekan-rekan yang pernah mendengar program seperti ini, hati-hatilah memilih yayasan yang menjembataninya. Sebaiknya pilihlah program yang diurus oleh sebuah universitas. Karena resikonya lebih kecil. Cuma, waiting listnya itu akan jadi kendala. Yang sabar mungkin akan tidak merana.

Thursday, April 26, 2007

Alma..tak terasa...





Untuk ALma, menjelang usia 5 bulan.

Nggak terasa ternyata dikau dah sebesar ini nduk........
Padahal berasa dikau masih merem melek keluar dari perut ibu nak.
Ee..nggak taunya udah bisa baca buku (ssst...boong).
Subhanallah........
Nggak mau tidur kalo nggak ada ibu di sisimu
Senyum lebar dan ngoceh 'ah..uh..ah..uh' kalau ayah pulang dari kampus.

Makasih ya nak, udah cinta sama kami.
Tapi maaf kan segala kekurangan ibu saat ini yaa.
Semoga kami jadi orang tua yang sholeh dan sholeha untukmu.

-ibu & ayah-
Sapporo, 26 April 2007

Friday, March 02, 2007

Visa untuk Alma

Assalammualaikum wr wb

Salam persahabatan dari kami sekeluarga. Apa kabar semuanya?
Aku mau bagi pengalaman nih. Semoga bermanfaat. Tapi maaf apabila ternyata tidak bermanfaat.

Kemarin, aku pergi ke Imigrasi Sapporo untuk melaporkan 2 hal.
1. Pemindahan stamp visa-ku yang ada di paspor lama ke paspor baru.
2. Menanyakan apakah Alma-putri kami, yang sebentar lagi berusia 3bulan-memerlukan visa untuk persyaratan tinggal di Jepang.

Hasilnya :
*untuk point 1.
Alhamdulillah tidak ada masalah, dan cepat sekali selesai. Stamp visa-ku dan kertas ijin masuk di bandara (Embarkation CardFor Foreigner) sudah berubah tempatnya, yakni di paspor baru.

*untuk point 2.
Ternyata sangat-sangat perlu. Petugas imigrasi sangat kaget ketika aku beritahu bahwa usia Alma hampir 3 bulan. Padahal secara hukum, visa untuk bayi WNA di Jepang harus sudah diurus dalam batas waktu 31 hari setelah lahir. Biasanya bayi-bayi yang lahir di Jepang/LN juga kan harus dilaporkan ke kedubes RI setempat untuk minta surat keterangan lahir, dan paspor. Saya dan suami sangat naif. Yang kami urus cuma KTP-Jepang dan paspor untuk Alma. Ketika KTP sudah ditangan, kami sangat surprise karena batas waktuKTP tersebut sampai Alma berusia 16 tahun. Di situ awalnya kami berfikir, mungkin dengan ID ini saja sudah cukup. Kami mulai ragu-ragu mengenai perlu tidaknya visa untuk Alma, adalah ketika pasporAlma sudah selesai dan kami terima dari kedubes. Logikanya, di paspor itu kan harus ada keterangan status tinggal. Misalnya, visa suamiku adalah 'ryugakusei/college student' dan aku berstatus 'dependent/ikut suami/kazokutaizai'.

Kembali mengenai visa untuk Alma, langsung saja saya diberi selembar kertas oleh petugas Imigrasi. Aku disuruh buat keterangan/alasanketerlambatan melaporkan keberadaan anak. Selain itu aku mengisi 2 jenis formulir untuk melengkapi surat permohonan visa untuk Alma. Perlu membawa paspor diri sendiri dan suami juga . Karena, diformulir yang aku isi itu ada keterangan mengenai data diri ibu dan ayah dari sang anak. Alhamdulillah urusannya lancar, walaupun memakan waktu lebih dari 2 jam. Setelah itu visa Alma keluar (hari itu juga). Hanya saja jangka waktu Alma tinggal di Jepang ternyata tidak dihitung 1 tahun bulat. Tapi 1 tahun dikurangi jumlah hari keterlambatan melapor (jangka waktu 31 hari tidak dihitung). Hiks....

Aku sempat bertanya kepada petugas Imigrasi. 'Bagaimana apabila selama jangka waktu 31 hari, anak yang bersangkutan belum memperoleh paspor?'.

Jawaban petugas, 'visa anak akan ditempel sementara pada paspor ibunya. Apabila sudah ada paspor baru, maka stamp visa akan dipindahkan'.

Setelah selesai mengurus visa, saya langsung melaporkan ke Kuyakusho/Ward Office setempat. Lalu petugas kuyakusho yang bersangkutan mencatat keterangan visa Alma di halaman belakang KTP nya. Ini pengalaman berharga buat kami, dan semoga bermanfaat buat yang lain yaaa. So, 'Jangan lupa mengurus visa buah hati kita...'.

Friday, February 02, 2007

House Wife


(isi blog ini sudah tertulis lama..tapi baru bisa di posting sekarang)
Malam, jam 11 lewat..ketika Alma tertidur.

Di sela-sela menyetrika, aku berfikir.Ternyata pekerjaan sebagai ibu rumah tangga itu adalah berat.Mungkin hanya ketika tidur seorang ibu rumah tangga berhenti berfikir dan beraktifitas. Ketika ia terjaga, maka otaknya akan terus diputar untuk berfikir tentang, 'ntar malam masak apa ya?','setrikaan masih numpuk pula', 'duuh, rumah kok kotor banget sih!','belanja bulanan harus ditekan semaksimal mungkin nih!', ' mesti beli baju untuk si adek, tapi uangnya nggak cukup...'dst.

Menjadi ibu rumah tangga adalah pilihan hidupku. Total ibu rumah tangga!.Kalau ditanya alasannya, adalah karena aku dah ngerasain jadi wanita yang bekerja. "Karir woman" gitu looh!!. Hmmm...alasan itu kedengarannya kok seperti sebuah pelarian yach.(biar deh).
Lulus kuliah pertengahan tahun 1996 aku mulai berkarir (cieee). Sebagai penterjermah lisan dan tulisan di sebuah perusahaan Jepang yang berlokasi di Cikampek city(Jakarta coret banget). Gajiku 500 ribu sajah (selalu habis untuk ngejajanin adik2). Aku dapat kamar di dormitory perusahaan. Perusahaanku itu terletak di lahan perindustrian yang masih baru. Masih sepi, berasa di negeri antah brantah yang jauh dari peradaban. Keluar masuk ke wilayah itu mesti pake bus karyawan, kalo nggak naik ojek yang ngabisin waktu 15 menit!...jauh bo!. Nggak bisa ditempuh dengan jalan kaki, karena bakal bikin kaki bengkak (hihih...agak hiperbolik), mana udara di sana puaannass, cuma yang nggak punya waktu banyak aja yang mau jalan kaki.

Aku terus berkarir hingga aku "ngungsi" ke Jepang tahun 1997 awal, lalu menetap hingga tahun 2004 awal Hidupku di Jepang pun nggak lepas dari mencari uang. Balik ke tanah air pun tetap harus bekerja. Kenapa harus...??yaaa karena belum nemu jodoh yang mengijinkanku 'tuk jadi bu RT.

Ketika usiaku berkepala 3, wajahku makin serius nih nyari jodoh. Lewat berbagai cara. Kenalan sendiri, di kenalin teman,di jodohin ortu..semuanya kandas. Hiks!. Kebanyakan karena "aku terlalu super" (kata para lelaki)...tapi bukan super- woman apalagi man-loh. Aku tuh terlalu mandiri. Kata orang-orang di sekelilingku aku itu kayak cowok. Bukan wajahnya, tapi pola pikir-praktis dan kadang nggak pake perasaan halus. Trus, terlalu sibuk, sukamengatur dll. Iiiihh...negatif semua yaa. Makanya, cowok-cowok pada ngabur...bur...

Lalu aku mengatur strategi untuk mendapatkan jodoh. Caranya aku bikin beberapa daftar tipe calon suami.Yang badannya tinggi, yang rajin ibadah, yang pinter, yang pernah tinggal di Jepang (biar pola pikir sama), yang setuju aku jadi ibu RT dan yang lembut. Rangkaian daftar itu aku jadikan isi doa setiap sholat. Urutan permintaanku sih nggak berurutan. Pokoke isinya itu deh. Alhamdulillah akhirnya "si dia" di munculkan juga oleh Allah swt. Jadi deh aku ibu RT! (makasih ya kang-love).

Tapi balik lagi ke permasalahan awal, ternyata nggak gampang loh jadi bu RT. Sebelum putri pertama kami lahir, semua pekerjaan rumah terasa menggairahkan dan menyenangkan. Sampai-sampai aku bangga sama sahabatku, bahwa aku cocok jadi bu RT (hehehehe). Walaupun aku diketawain ama tuh sahabat. Kata sahabatku itu, aku nggak mungkin cuma jadi bu RT...wong 'super' gitu. Maksudnya super sibuk. Kesannya wanita karir itu sibuk, dan ibu RT kok nggak gitu ya??? . Setelah menikah setiap hari adaaa saja masakan baru yang ku coba, lalu disantap bersama dengan suamiku. Adaaa aja resep kue yang menjadi surprise untuk suami. Rumah pun selalu rapih (walaupun aku nggak pinter ngedesain rumah), service ke suami boleh dibanggain deh (itu kata suamiku loh).
Aku bisa mengerjakan semua pekerjaan rumah, karena aku pernah tinggal lama sendirian di Jepang. Soal masak memasak, ilmunya ku peroleh dari bekerja paruh waktu. Aku pernah jadi tukang roti, tukang kue, koki, tukang bikin sushi, dll. Kepake deh pengalaman selama di Jepang (eh, sekarang juga balik ke sini).
Tapi terus terang sekarang aku sedih dan kadang sutrisno nih (stress maksudnya). Setelah putri pertama kami lahir, aku mulai merasa keteteran. Suaaangaaaat keteteran. Namanya baru punya bayi, kata orang, ritme hidup orang dewasa terutama ibu, mau tidak mau disesuaikan dengan ritme hidup bayi. Aku pun mengalami hal yang sama. Apalagi aku cuma berdua dengan suami di negeri orang dalam mengasuh putri kami. Nggak ada pembantu, sodara yang bisa ikut membantu. Wah udah deh...mulai dari masak, nyuci piring, makan, ngurus suami, beberes rumah, ampe yang kecil-kecil seperti ngepel,bersihin kamar mandi, nyetrika, bersihin kamar tidur, nge-vacum karpet dll..semuanya berantakan. Aku sendiri juga lebih amburadul lagi. Kadang nggak sempet mandi!!!.

Ternyata aku tuh belum bisa bangga jadi ibu RT. Wong baru begini aja udah keteteran. Kalo ada ayam maka tentu ada telornya. Nah, Aku ini masih 'telor'-nya ibu RT. Belum jadi, belum matang...masih perlu mengasah kemampuan memanage rumah tangga. Ada kenalanku yang selalu memuji. 'Saya salut sama bu Novi. Sendirian ngasuh anak pertama di luar negeri'. Wah...maluu aku dipuji gitu. Pengennya mukaku disumputin dulu.

Ada ustad yang bilang, jangan meremehkan ibu RT loh. Karena ibu RT itu adalah seorang:
1. Manajer
2. Koki
3. Recepsionis
4. Baby Sitter
5. Pengusaha laundry
6. Sekretaris
7. Pendidik
* Kalau nyewa 1 dari 7 orang yang punya profesionalitas seperti itu, mesti bayar berapa coba?.
Seorang "Ibu RT" itu adalah wajah sebuah rumah tangga...(menurut ku loh, ya nggak kang?).
Kalau belajar dari kehidupan ibu RT di Jepang, bisa dibilang mereka itu sangat-sangat mengabdi kepada keluarganya. Selain kondisi dalam rumah yang selalu tertata rapi, diri mereka sendiri pun selalu rapi. Ibu RT itu adalah cermin keluarga. So, aku harus lebih keras lagi berusaha!. Harus benar-benar berterima kasih kepada ibu kita.

Buat ibu-ibu senior yang baca blog-ku, bagi-bagi tips-nya yaa....

Sunday, January 21, 2007

"Oya Baka" nih yee...



Akhir-akhir ini aku sangat sibuk dengan Alma-putri pertama kami. Alhamdulillah usia Alma sudah 1 bulan 17 hari.

Ritme kehidupan ku berubah total. Yang dulunya disesuaikan dengan keinginan hati, sekarang mesti dicocokkan dengan jadwalnya neng Alma. Jadwal nangis karena minta pampersnya diganti atau karena pengen nen,adalah yang utama. Kalau 'kereta api' dah meraung-raung, maka pekerjaan lain mesti ditinggal.

Gaya hidupku yang baru sekarang rada mirip ama kalong..tapi nggak 100% loh. Kalo normalnya malam itu dipake tidur sekarang begadang (sst..jangan bilang OmRhoma Irama yaa..ntar aku dinyanyiin "Begadang jangan begadaaanngg..").

Di Jepang dikenal istilah 'Oya Baka'. Kalau diartikan per-kata, 'Oya= orang tua'. Sedangkan 'Baka=bodoh'. Tapi istilah ini bukan berarti orang tua yang bodoh. Tapi orang tua yang sedang tergila-gila sama anak mereka yang baru lahir. Misalnya, menyebut kata 'sayang' jadi 'tay-yang'.Atau, 'Di sun yaa.' jadi 'Di cun yaa'. Aku juga ngalamin itu (hehe).

Suamiku lain lagi. Bukan dengan kata-kata, tapi dengan hobbynya yang minta difoto kalau lagi ngemong Alma. Dikit-dikit...'foto ayah dong bu'. Inilah hasil-hasilnya.




Pikir-pikir, ntar kalau dikirim ke para ortu di Bandung, apa ndak kena tegur aku ya.. 'Ini yang ngemong anak kok ayahnya melulu..ibunya mana nih?. Hehehe...moment-moment ku lagi ngurus Alma nggak pernah ada buktinya....soalnya nggak ada yang motoin..(kaciaan deh gue,'gubrak'!).

Saturday, January 06, 2007

Dari lubuk hati yang paling dalam...............


Astagfirullah...
Ada yang hal penting yang lupa aku sampaikan dengan baik kepada semua rekan yang selalu menyapaku, baik itu lewat email, lewat chatting atau lewat blog ini.
Yang aku lupa adalah mengucapkan rasa terima kasih atas perhatian, doa-doa selama aku hamil, hingga melahirkan. Bahkan setelah Alma--buah hati kami--genap berusia1 bulan .
Tak pernah putus doa-doa, perhatian, dukungan, sapaan untuk saya, dan sun sayang untuk Alma yang terus mengalir dari tante-tante yang kenal ibunya Alma. Sampe tembem pipi putriku karena kebanyakan di sun..hehehehe...
Allahu Akbar..betapa besar perhatian rekan-rekan semua, sampe terharu sekali kami berdua. Jazakillah khoir...semoga Allah swt membalas kebaikan hati semua tante dan beberapa om dengan kunci surga, Amiin ya rabbil alamiin.

Sekali lagi: dari lubuk hati yang paling dalam saya dan suami-kang Diky,juga Alma--yang belum bisa ngomong--ingin mengucapkan terima kasih yang sedalam-dalamnya untuk semua tante yang tinggal di Jepang, Jerman dan Indonesia. Special untuk tante Femina Sagita di Hachioji-city, tante Sugegaya Mako di Fujieda-city dan tante Seriyawati Hata di Nagoya-city,semuanya menetap di Jepang, makasih banyak kiriman baju-baju untuk neng geulis Alma dan makanan buat saya yaaa........

Yang bersyukur............................
Kel Diky Mudhakir-Novi di Sapporo